Negara Indonesia belum terbiasa dengan identitas jamak dan kebijakan multikultural.
Ada berbagai macam aturan, yang dibuat sejak kemerdekaan 1945, membuat identitas tunggal saja.
Di Bengkayang, Laurensius Kubal, sudah berusaha memperkenalkan Yesus dan Dayak, dalam lukisan dan relief.
Yesus bisa bertambah dengan Dayak. Dan, Dayak bisa bertambah dengan Yesus.
Di rumahnya di Ketiat, Kubal tanya apa yang bisa dibikin lagi buat kembali jadi seniman, “Sudah jadi tukang saya ini.”
Saya usul membuat lukisan Kuan Kwong dari mitologi Sam Kok, tentu saja, dengan identitas Dayak.
Orang-orang yang suka pada Kwang Kong banyak di Kalimantan Barat.
Kubal tertawa lebar.
Dia janji akan bikin Kuan Kwong versi Dayak. (Andreas Harsono)
* Penulis adalah seorang wartawan dan peneliti, menulis buku Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Soeharto Indonesia
Artikel Terkait
Pemuda Katolik Minta Wali Kota Bandar Lampung Turun Tangan Soal Izin Gereja. Buntut Ibadah Dipaksa Berhenti
Apa Makna Rabu Abu bagi Umat Katolik? Mengapa Rabu Abu Penting, Begini Jawabannya
Kardinal Suharyo Ingatkan Pelayanan Kasih dan Semangat Cinta Tanah Air bagi Anggota TNI/Polri Beragama Katolik
Pater Noster, Doa Bapa Kami Bahasa Latin dan Bahasa Indonesia: Doa Katolik
Mengenal Ensiklik Seorang Paus Gereja Katolik Roma. 4 Ensiklik Paling Berdampak bagi Dunia Termasuk Laudato Si
100 Imam Katolik di Keuskupan Agung Pontianak Pembaruan Janji Imamat dan Misa Krisma Bersama Mgr Agustinus