“Dibayar Rp 1 juta sama Pastor Bertus.”
Bila nilai tukar rupiah terhadap dollar pada 1981 sama dengan Rp 625.
Laurensius Kubal menerima USD1,600.
Nilainya sekarang sekitar Rp 23 juta. Jumlah yang lumayan buat pekerjaan tiga minggu.
Pakaian Dayak
Maria digambarkan menggendong bayi Yesus, putranya, dengan kostum Dayak dari Kapuas Hulu.
Maria pakai baju hitam dan merah. Yoseph, bapaknya Yesus, pakai rompi merah serta menganyam rotan buat takin.
“Ini Bunda Maria versi Dayak. Tuhan Yesus lahir, bayi versi Dayak juga. Ini Santo Yoseph tukang kayu. Tapi versi Dayak, yang menganyam takin, untuk pengamin. Dari rotan kan?” kata Kubal.
Pada lukisan terbesar, Laurensius menggambarkan belasan orang termasuk orang Dayak, Madura (baju dan celana hitam), Jawa (pakai blankon), Melayu (baju kuning, ikat kepala kuning), Papua (kulit hitam, rambut keriting) dan sebagainya diperlakukan setara di hadapan Yesus.
Laurensius Kubal mengunjungi kapel Wisma Emaus dimana dia melukis Dayak versi Yesus pada 1981.
Kubal menggambarkan Maria dan Yoseph dengan pakaian Dayak.
Tampaknya, gambar-gambar di Wisma Emaus tersebut menyebar di kalangan elite Katolik.
Keuskupan Pontianak lantas memberi pekerjaan kepada Kubal buat bikin relief jalan salib.
Ia istilah teologis buat Via Dolorosa, yang menggambarkan perjalanan Yesus dari penjara sampai ke Bukit Golgota, Yerusalem, dengan 14 pemberhentian.
Artikel Terkait
Pemuda Katolik Minta Wali Kota Bandar Lampung Turun Tangan Soal Izin Gereja. Buntut Ibadah Dipaksa Berhenti
Apa Makna Rabu Abu bagi Umat Katolik? Mengapa Rabu Abu Penting, Begini Jawabannya
Kardinal Suharyo Ingatkan Pelayanan Kasih dan Semangat Cinta Tanah Air bagi Anggota TNI/Polri Beragama Katolik
Pater Noster, Doa Bapa Kami Bahasa Latin dan Bahasa Indonesia: Doa Katolik
Mengenal Ensiklik Seorang Paus Gereja Katolik Roma. 4 Ensiklik Paling Berdampak bagi Dunia Termasuk Laudato Si
100 Imam Katolik di Keuskupan Agung Pontianak Pembaruan Janji Imamat dan Misa Krisma Bersama Mgr Agustinus