Dia hanya bikin ornamen Dayak, ornamen klenteng.
Dia baru saja selesai membuat ornamen sebuah klenteng di Pemangkat, Sambas.
Makin Matang
Kini Kubal sudah berumur 65 tahun. Sudah 42 tahun berlalu sejak dia bikin karya-karya di Nyarumkop dan Singkawang.
Anatomi yang dibuatnya pada 1981 sedikit beda dengan berbagai garis yang saya lihat pada karya-karyanya belakangan di rumah Ketiat.
Garis-garis lebih minimal pada karya-karya sekarang.
Kubal makin matang.
Menurut Human Development Report 2004: Cultural Liberty in Today’s Diverse World, yang penulisannya dikepalai ekonom Amartya Sen dari India, ada tiga prinsip penting dalam menjalankan kehidupan negara-bangsa: (1) menghormati keragaman; (2) mengenal identitas jamak; (3) membangun ikatan dengan komunitas lokal.
Laporan tersebut menekankan perlunya menghormati keragaman dan membangun bangsa yang lebih terbuka dengan negara bikin kebijakan, yang secara tersurat, menerima perbedaan budaya maupun agama.
Namanya, kebijakan multikultural. Identitas bukanlah zero sum game. Orang Dayak, yang merangkul kekristenan, tak harus kehilangan kedayakannya.
Asumsinya, jika seseorang memiliki lebih dari satu identitas, orang tersebut memiliki lebih sedikit identitas lainnya.
Padahal orang bisa memiliki beberapa identitas sekaligus.
Artikel Terkait
Pemuda Katolik Minta Wali Kota Bandar Lampung Turun Tangan Soal Izin Gereja. Buntut Ibadah Dipaksa Berhenti
Apa Makna Rabu Abu bagi Umat Katolik? Mengapa Rabu Abu Penting, Begini Jawabannya
Kardinal Suharyo Ingatkan Pelayanan Kasih dan Semangat Cinta Tanah Air bagi Anggota TNI/Polri Beragama Katolik
Pater Noster, Doa Bapa Kami Bahasa Latin dan Bahasa Indonesia: Doa Katolik
Mengenal Ensiklik Seorang Paus Gereja Katolik Roma. 4 Ensiklik Paling Berdampak bagi Dunia Termasuk Laudato Si
100 Imam Katolik di Keuskupan Agung Pontianak Pembaruan Janji Imamat dan Misa Krisma Bersama Mgr Agustinus