Laurensius Kubal Lukis Yesus versi Dayak: Seniman Dayak Menggambar Yesus pada 1981, Namun Kurang Dimengerti

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 3 Mei 2023 | 20:10 WIB
Lukisan karya Laurensius Kubal di Wisma Emaus, Nyarumkop, Singkawang Kalbar. Wisma Emaus dulunya sempat menjadi biara Bruder kongregasi Maria Tak Bernoda (MTB). Kubal melukis Keluarga Kudus yaitu Yesus, Maria dan Santo Yoseph versi Dayak. Ia juga menggambarkan suku  bangsa datang kepada Yesus. (Pontianak Globe/Andreas Harsono)
Lukisan karya Laurensius Kubal di Wisma Emaus, Nyarumkop, Singkawang Kalbar. Wisma Emaus dulunya sempat menjadi biara Bruder kongregasi Maria Tak Bernoda (MTB). Kubal melukis Keluarga Kudus yaitu Yesus, Maria dan Santo Yoseph versi Dayak. Ia juga menggambarkan suku bangsa datang kepada Yesus. (Pontianak Globe/Andreas Harsono)

Dia hanya bikin ornamen Dayak, ornamen klenteng.

Dia baru saja selesai membuat ornamen sebuah klenteng di Pemangkat, Sambas.

 

Makin Matang

Kini Kubal sudah berumur 65 tahun. Sudah 42 tahun berlalu sejak dia bikin karya-karya di Nyarumkop dan Singkawang.

Anatomi yang dibuatnya pada 1981 sedikit beda dengan berbagai garis yang saya lihat pada karya-karyanya belakangan di rumah Ketiat.

Garis-garis lebih minimal pada karya-karya sekarang.

Kubal makin matang.

Laurensius Kubal dan penulis, Andreas Harsono saat berada di Biara Providentia, milik kongregasi suster Klaris Kapusines.
Laurensius Kubal dan penulis, Andreas Harsono saat berada di Biara Providentia, milik kongregasi suster Klaris Kapusines. (Pontianak Globe/Andreas Harsono)
Saya bayangkan betapa kuatnya bila Kubal sekarang bikin karya dengan tema inkulturasi dan toleransi.

Menurut Human Development Report 2004: Cultural Liberty in Today’s Diverse World, yang penulisannya dikepalai ekonom Amartya Sen dari India, ada tiga prinsip penting dalam menjalankan kehidupan negara-bangsa: (1) menghormati keragaman; (2) mengenal identitas jamak; (3) membangun ikatan dengan komunitas lokal.

Laporan tersebut menekankan perlunya menghormati keragaman dan membangun bangsa yang lebih terbuka dengan negara bikin kebijakan, yang secara tersurat, menerima perbedaan budaya maupun agama.

Namanya, kebijakan multikultural. Identitas bukanlah zero sum game. Orang Dayak, yang merangkul kekristenan, tak harus kehilangan kedayakannya.

Asumsinya, jika seseorang memiliki lebih dari satu identitas, orang tersebut memiliki lebih sedikit identitas lainnya.

Laurensius Kubal berfoto di salah satu hasil karyanya berupa relief Via Dolorosa atau jalan salib di Biara Providentia, susteran Klaris Fransiskanes, Singkawang, Kalbar.
Laurensius Kubal berfoto di salah satu hasil karyanya berupa relief Via Dolorosa atau jalan salib di Biara Providentia, susteran Klaris Fransiskanes, Singkawang, Kalbar. (Pontianak Globe/Andreas Harsono)
Identitas, entah bagaimana dibayangkan, seperti kotak dengan ukuran tetap.

Padahal orang bisa memiliki beberapa identitas sekaligus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X