religi

Laurensius Kubal Lukis Yesus versi Dayak: Seniman Dayak Menggambar Yesus pada 1981, Namun Kurang Dimengerti

Rabu, 3 Mei 2023 | 20:10 WIB
Lukisan karya Laurensius Kubal di Wisma Emaus, Nyarumkop, Singkawang Kalbar. Wisma Emaus dulunya sempat menjadi biara Bruder kongregasi Maria Tak Bernoda (MTB). Kubal melukis Keluarga Kudus yaitu Yesus, Maria dan Santo Yoseph versi Dayak. Ia juga menggambarkan suku bangsa datang kepada Yesus. (Pontianak Globe/Andreas Harsono)

PONTIANAKGLOBE.COM, BENGKAYANG -- PADA 1981, seorang seniman umur 23 tahun, diminta Pastor Bertus Visschedijk dari Nyarumkop, melukis sebuah kapel di Wisma Emaus.

Visschedijk ikut membangun wisma tersebut.

Dia memberi kebebasan kepada si pelukis muda buat menggambarkan suasana kekristenan, termasuk kelahiran bayi Yesus di sebuah kandang, sekitar 2,000 tahun lalu di kota Betlehem, menurut kitab-kitab Kristen.

Saat itu, Yudaisme adalah agama dominan di Tanah Judea, tempat banyak orang Yahudi tinggal, termasuk orang tua Yesus.

Ia dikuasai Romawi, kerajaan internasional terbesar waktu itu, dengan ibukota provinsi Yerusalem.

Ketika dewasa, Yesus menjadi pengkhotbah di Tanah Judea.

Dia kritis terhadap korupsi dan kemunafikan.

Dia sering bikin geram pemuka Yahudi. Buntutnya, dia dilaporkan beberapa ulama Yahudi melakukan “penodaan agama” di Yerusalem.

Gubernur Pontius Pilatus memutuskan hukuman mati.

Yesus dipaksa memikul salib ke sebuah bukit, melalui serangkaian jalan Via Dolorosa, dan disalibkan di bukit Golgota.

Di Nyarumkop, Laurensius Kubal, si pelukis muda, etnik Dayak Ahe, diminta menggambarkan Yesus.

“Saya makan, tidur, kerja, semuanya disitu.”

“Lima hari seminggu. Sabtu dan Minggu, saya pulang.”

“Pakai cat cap Kuda Terbang. Itu cat biasa saja. Ada delapan warna dasar. Saya campur sendiri.”

Lima panel tersebut selesai digambar pada April 1981. Ada tanda tangan “Laurensius Kubal” pada lukisan terbesar.

Halaman:

Tags

Terkini