PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Fenomena iklim El Niño kini resmi memasuki fase aktif.
Di banyak negara, pengumuman ini dipandang bukan sekadar perubahan suhu laut di Samudra Pasifik, melainkan sinyal awal terhadap potensi meningkatnya cuaca ekstrem, tekanan pangan, hingga risiko bencana dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Saat Gambut Mengering, Ketahanan Pangan Nasional Diuji dari Kalimantan Barat
Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) pada 11 Juni 2026 mengonfirmasi terbentuknya El Niño setelah suhu permukaan laut di Pasifik tropis menunjukkan pemanasan yang konsisten.
NOAA bahkan memperkirakan terdapat peluang sekitar 63 persen bahwa peristiwa kali ini dapat berkembang menjadi salah satu El Niño terkuat sejak pencatatan modern dimulai pada 1950.
Fenomena ini terjadi ketika suhu laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik meningkat di atas normal, lalu memicu perubahan sirkulasi atmosfer yang memengaruhi pola hujan dan suhu di berbagai kawasan dunia.
Secara historis, El Niño sering dikaitkan dengan meningkatnya kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, dan gangguan produksi pangan.
Namun yang membuat El Niño 2026 mendapat perhatian lebih besar adalah konteks global saat ini.
Para ilmuwan menilai El Niño kali ini berlangsung di tengah kondisi bumi yang telah lebih panas akibat perubahan iklim.
Baca Juga: Krisis Lingkungan Kian Kompleks, BRIN Minta Perbaikan Tata Kelola Sumber Daya Alam
Kombinasi keduanya berpotensi memperkuat cuaca ekstrem dan mendorong suhu global ke tingkat yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Australia Bersiap Hadapi Musim yang Lebih Panas
Australia menjadi salah satu negara yang paling aktif memantau perkembangan El Niño.
Meski otoritas cuaca Australia belum secara resmi mendeklarasikan El Niño menurut standar nasional mereka, model iklim menunjukkan peluang kemunculannya sangat tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Biro Meteorologi Australia memperkirakan periode Juli hingga September berpotensi membawa suhu yang lebih panas dan kondisi yang lebih kering dibanding normal, terutama di wilayah selatan dan timur negara tersebut.