Guru Besar Untan Sebut MATA PANDAWA Berpotensi Jadi Cagar Biosfer UNESCO

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Minggu, 5 Juli 2026 | 07:14 WIB
Prof Dr Ir H Gusti Hardiansyah MSc QAM IPU, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura sekaligus Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat, memaparkan potensi kawasan MATA PANDAWA sebagai Calon Cagar Biosfer UNESCO yang diharapkan mampu mendorong pembangunan berkelanjutan.  (Dok. Pontianak Globe)
Prof Dr Ir H Gusti Hardiansyah MSc QAM IPU, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura sekaligus Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat, memaparkan potensi kawasan MATA PANDAWA sebagai Calon Cagar Biosfer UNESCO yang diharapkan mampu mendorong pembangunan berkelanjutan. (Dok. Pontianak Globe)

Ia menilai konservasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar kawasan.

Menurut Gusti, pengembangan kawasan MATA PANDAWA juga berpotensi menjadi salah satu instrumen strategis dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalimantan Barat.

Baca Juga: Ketika Isu Hutan, Iklim, dan Masyarakat, Bersama GIZ dan GCF Bertemu dalam Satu Meja, Begini Inisiatif Berkelanjutan untuk Kalimantan Barat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Kalbar pada 2025 mencapai 72,09, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, capaian tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional.

"Setiap angka dalam IPM mencerminkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu pembangunan harus mampu menghadirkan pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang berkualitas, serta kesempatan ekonomi yang merata," ujarnya.

Konservasi dan Ekonomi Hijau

Gusti menjelaskan, manfaat kawasan cagar biosfer tidak hanya dirasakan dari sisi pelestarian alam, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi hijau melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu, agroforestri, jasa lingkungan, perdagangan karbon, hingga ekowisata.

Menurutnya, komoditas seperti madu hutan, tengkawang, rotan, bambu, tanaman obat, dan berbagai produk lokal harus memiliki nilai tambah melalui pengolahan, sertifikasi, pemasaran digital, dan akses pasar yang lebih luas.

"Dengan demikian, konservasi tidak menjadi beban masyarakat, tetapi justru menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan," katanya.

Ia menegaskan, keberhasilan MATA PANDAWA sebagai calon Cagar Biosfer UNESCO memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dunia usaha, pemerintah desa, masyarakat adat, hingga komunitas lokal.

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari status UNESCO semata, melainkan dari dampak nyata bagi masyarakat, seperti meningkatnya pendapatan warga, bertambahnya desa bebas kebakaran hutan, berkembangnya usaha lokal, serta membaiknya kualitas pendidikan dan kesehatan.

"Jika MATA PANDAWA hanya menjadi nama dalam dokumen, ia akan mudah dilupakan. Namun jika menjadi gerakan bersama, kawasan ini dapat menjadi fondasi pembangunan Kalimantan Barat yang lebih hijau, berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ahli Toksinologi Ungkap Dokter Icha Berulang

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:08 WIB
X