PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), Prof Dr Ir H Gusti Hardiansyah MSc QAM IPU, menilai bentang alam MATA PANDAWA yang mencakup Selat Karimata, Taman Nasional Gunung Palung, dan Hutan Lindung Mendawak memiliki potensi besar untuk diusulkan sebagai Cagar Biosfer UNESCO.
Menurut Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat tersebut, kawasan itu memiliki kekayaan ekosistem yang saling terhubung, mulai dari laut, hutan hujan tropis, gambut hingga mangrove.
Baca Juga: Lahirnya Persekolahan Katolik Nyarumkop, Ketika Hutan Belantara Menjadi Taman Pendidikan
Keunggulan tersebut dinilai memenuhi konsep pengelolaan lanskap berkelanjutan yang menjadi salah satu syarat kawasan cagar biosfer.
"MATA PANDAWA bukan sekadar kawasan konservasi, tetapi sebuah lanskap kehidupan yang menyatukan hutan, laut, gambut, mangrove, satwa liar, sungai, desa, dan manusia dalam satu ekosistem," ujar Gusti Hardiansyah, Sabtu (4/7/2026).
Lanskap Terpadu Bernilai Global
Ia menjelaskan, konsep Cagar Biosfer UNESCO mengedepankan keseimbangan antara konservasi, penelitian, pendidikan, dan pembangunan ekonomi masyarakat melalui tiga zona utama, yakni area inti, zona penyangga, dan area transisi.
Dalam konteks Kalimantan Barat, Selat Karimata menjadi penghubung penting antara Laut China Selatan dan Laut Jawa sekaligus memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi.
Baca Juga: Menembus Belantara Nyarumkop, dari Hutan Rimba Lahir Mercusuar Pendidikan Katolik di Kalimantan
Sementara itu, Taman Nasional Gunung Palung seluas sekitar 108.044 hektare dikenal sebagai habitat penting orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dengan ekosistem yang lengkap, mulai dari hutan mangrove hingga pegunungan.
Di sisi lain, Hutan Lindung Mendawak yang membentang sekitar 500 ribu hektare memiliki fungsi strategis sebagai bentang lahan gambut penyimpan air dan karbon yang sangat penting bagi keseimbangan lingkungan Kalimantan Barat.
Menurut Gusti, ketiga kawasan tersebut saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan lanskap yang layak memperoleh pengakuan dunia.
Bukan Sekadar Mengejar Status UNESCO
Gusti menegaskan, usulan Cagar Biosfer UNESCO tidak boleh dipahami hanya sebagai upaya memperoleh pengakuan internasional.
"Label UNESCO tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nilai utamanya justru terletak pada bagaimana kawasan tersebut mampu menjadi platform pembangunan manusia berbasis lanskap," katanya.
Artikel Terkait
Pegiat Lingkungan Ungkap Fakta Longsor Cisarua: Petani Bukan Penyebab, Krisis Iklim Jadi Pemicu
Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan
Laporan PBB Ungkap Generasi Muda akan Menanggung Dampak Terbesar Krisis Iklim
Dari Kanopi ke Sungai, Membaca Dampak Perubahan Iklim di Jantung Borneo
Ketika Isu Hutan, Iklim, dan Masyarakat, Bersama GIZ dan GCF Bertemu dalam Satu Meja, Begini Inisiatif Berkelanjutan untuk Kalimantan Barat
Perubahan Iklim Kian Berdampak di Indonesia, Kolaborasi Jadi Kunci Perkuat Ketahanan Masyarakat