Rumah Betang, Warisan Dayak yang Mengajarkan Arti Hidup Bersama

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:04 WIB
Tarian Dayak menyambut rombongan peserta PKSN XIII di Rumah Betang di Pontianak, Jumat (29/05/2026).  (Komsos KAP)
Tarian Dayak menyambut rombongan peserta PKSN XIII di Rumah Betang di Pontianak, Jumat (29/05/2026). (Komsos KAP)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Tabuhan musik tradisional Dayak terdengar mengalun ketika rombongan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII tiba di Rumah Betang, Pontianak, Jumat, 29 Mei 2026.

Sejumlah penari menyambut mereka, sementara beras kuning ditaburkan sebagai simbol penerimaan dan penghormatan kepada tamu.

Baca Juga: Kenali FOMO Saham & Crypto: Mengapa Ikut-ikutan Tren Influencer Bisa Bikin Portofoliomu Boncos

Namun, yang dipelajari para peserta hari itu bukan sekadar tarian atau ritual adat.

Mereka diajak memahami filosofi hidup yang telah diwariskan masyarakat Dayak selama berabad-abad melalui Rumah Betang.

Rumah Betang dikenal sebagai rumah panjang tradisional masyarakat Dayak.

Pada masa lalu, satu rumah dapat dihuni banyak keluarga yang hidup bersama dalam satu komunitas.

Di tempat itulah mereka tumbuh, bekerja, bermusyawarah, dan membangun kehidupan bersama.

Ketua Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat (Sekberkesda), Eugene Yohanes Palaunsoeka, menjelaskan bahwa Rumah Betang bukan hanya warisan arsitektur, melainkan simbol kehidupan komunal yang menjadi fondasi budaya Dayak.

Baca Juga: Siasat Atur Gaji UMR Pakai Metode Lemari Kosong, Budgeting Praktis Anti Ribet

“Filosofi utama Rumah Betang terletak pada kehidupan komunal dan kebersamaan masyarakat Dayak yang sangat kuat. Dahulu, sejak lahir hingga menikah, leluhur kami hidup bersama di Rumah Betang,” ujarnya.

Dalam kehidupan di Rumah Betang, setiap penghuni memiliki ruang keluarga masing-masing, tetapi tetap terhubung dengan ruang bersama yang menjadi tempat berinteraksi dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Nilai kebersamaan itu melahirkan budaya gotong royong, saling membantu, dan menghormati sesama anggota komunitas.

Perbedaan usia, status sosial, maupun latar belakang keluarga tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan.

Bagi peserta PKSN XIII, filosofi tersebut terasa relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang semakin individualistis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X