Di tengah perkembangan teknologi yang membuat orang semakin terhubung secara digital, tidak sedikit yang justru merasa semakin jauh secara sosial.
Baca Juga: Ekonomi RI Naik 5,61 Persen, tapi Kok Cari Kerja Malah Makin Susah? Ini Penjelasan Logisnya
Rumah Betang menawarkan perspektif berbeda.
Kebersamaan tidak dibangun melalui kedekatan fisik semata, melainkan melalui kesediaan untuk saling mendengarkan, berbagi, dan menjaga hubungan dengan sesama.
Menurut Eugene, keberadaan replika Rumah Betang di Pontianak menjadi cara untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.
“Rumah Betang mengajarkan bagaimana manusia hidup harmonis dengan sesama dan dengan alam. Nilai itu tetap relevan hingga sekarang,” katanya.
Selain mengenal filosofi Rumah Betang, peserta juga berkesempatan berdialog dengan tokoh adat dan pegiat budaya Dayak mengenai berbagai upaya pelestarian tradisi di tengah perubahan zaman.
Kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya hidup dalam bentuk tarian, pakaian adat, atau bangunan tradisional.
Budaya juga hidup dalam nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Rumah Betang, para peserta PKSN XIII menemukan pelajaran sederhana tetapi mendalam: kebersamaan adalah kekuatan yang mampu menjaga sebuah komunitas tetap bertahan melintasi zaman. ***
Artikel Terkait
Bedah Bisnis: Mengapa Kafe Estetik Banyak yang Tumbang dalam Waktu Kurang dari 1 Tahun?
Terjebak Paylater dan Pinjol demi Validasi Sosial? Ini Trik Lepas dari Lingkaran Setan Utang Digital
Nikmati Keragaman Budaya, Peserta PKSN XIII Sambangi Komunitas Etnis di Pontianak
Kampung Caping Pontianak, Saat Budaya Melayu dan Kepedulian Lingkungan Bertemu
Pegiat Media Gereja Belajar "Wajah dan Suara" Lokal dari Tiga Etnis Kalimantan Barat
Rumah Hakka Pontianak, Merawat Persatuan Lewat Warisan Budaya