Bagi peserta PKSN XIII, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.
Artis senior Lisa A. Riyanto yang turut mendampingi kunjungan mengaku terkesan dengan kreativitas masyarakat setempat dalam mengembangkan produk berbasis budaya.
“Kerajinan lokal memiliki nilai budaya dan ekonomi yang besar. Awalnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, kemudian berkembang menjadi produk unggulan bahkan mampu menembus pasar yang lebih luas,” katanya.
Menurut Lisa, keberhasilan komunitas seperti Kampung Caping menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan yang disimpan, melainkan aset yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah arus modernisasi, Kampung Caping menghadirkan pelajaran sederhana namun penting: identitas budaya dapat tetap hidup ketika masyarakat merawatnya bersama.
Dari anyaman caping, rumah tua yang dipelihara, hingga kebiasaan mengurangi sampah plastik, semuanya menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana tradisi terus menemukan tempatnya di masa kini.
Bagi para peserta PKSN XIII, kunjungan ke Kampung Caping bukan sekadar wisata budaya. Mereka melihat secara langsung bagaimana sebuah komunitas menjaga akar tradisinya sambil menjawab tantangan zaman.
Artikel Terkait
Penutupan Temu KOMSOS Regio Kalimantan, Dalam Balutan Rekreasi di Sungai Mahakam
Pesan Ketua Komsos KWI: Wartawan Katolik Jangan Terjebak Gaya Medsos, Kembali ke Jati Diri
Pontianak Tuan Rumah Perayaan Komsos Nasional, Gereja Katolik Ingatkan Ancaman AI terhadap Martabat Manusia
Mgr Didik Ingatkan Komsos Harus Menghadirkan Wajah dan Suara Gereja bagi Masyarakat
Kebisingan Digital, Uskup Didik Ingatkan Komsos Tak Sekadar Pengguna Teknologi
Gempuran Teknologi Kecerdasan Buatan Intai Media Gereja, Pegiat Komsos Harus Berbenah