Kampung Caping Pontianak, Saat Budaya Melayu dan Kepedulian Lingkungan Bertemu

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:24 WIB
Artis Lisa A. Riyanto mencoba membuat caping–topi berbahan daun berbentuk kerucut–saat mengunjungi Kampung Wisata Caping di Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026).  (Komsos KAP)
Artis Lisa A. Riyanto mencoba membuat caping–topi berbahan daun berbentuk kerucut–saat mengunjungi Kampung Wisata Caping di Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026). (Komsos KAP)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di tepian Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, berdiri sebuah rumah panggung kayu berarsitektur Melayu yang menyimpan banyak cerita.

Rumah itu menjadi pusat kegiatan masyarakat di Kampung Wisata Caping, salah satu destinasi budaya yang dikunjungi peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII, Jumat (29/5/2026).

Kedatangan rombongan pegiat media Gereja dari berbagai keuskupan di Indonesia disambut hangat oleh warga.

Tidak ada kemewahan berlebihan.

Yang hadir justru kesederhanaan yang sarat makna: senyum ramah, sajian kuliner tradisional, dan cerita tentang upaya menjaga budaya sekaligus merawat lingkungan.

Nama Kampung Caping berasal dari kerajinan caping yang berkembang di kawasan tersebut.

Caping merupakan topi berbentuk kerucut yang dibuat dari anyaman daun dan sejak lama digunakan masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan.

Rumah yang menjadi pusat kegiatan kampung ini merupakan bangunan cagar budaya hasil revitalisasi rumah warga yang telah berdiri sejak 1918.

Kini bangunan itu tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga ruang belajar bagi masyarakat.

Pendamping masyarakat Kampung Caping, Sinta Devianti, menjelaskan bahwa berbagai kegiatan dikembangkan berbasis kearifan lokal.

Mulai dari pelestarian seni budaya Melayu, pengembangan kerajinan tangan, pengelolaan perpustakaan kampung, hingga edukasi lingkungan.

“Kami berusaha menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sarana pendidikan bagi generasi muda,” ujarnya.

Semangat menjaga lingkungan tampak dari hal-hal sederhana.

Makanan ringan yang disajikan kepada tamu dikemas menggunakan daun pisang, sementara wadahnya dibuat dari bambu dan rotan.

Hampir tidak terlihat penggunaan plastik sekali pakai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X