Kau pikir hutan itu sunyi? Tidak! Ia hanya menahan diri, sabar menanti kedatangan
seseorang, yang pasrah untuk mendeganrkan tuturannya.
Aku tiba ketika senja nyaris sempurna. Di kejauhan, suara mesin diesel menderu, berulang, berat, seperti tak pernah lelah. Di tepi sungai yang keruh dan mengalir lamban, seorang lelaki tua duduk di atas batang lapuk. Ia mengiris sepotong kayu dengan seraut. Pelan seperti mengupas waktu. Aku tidak tahu persis, siapa lelaki tua itu. Penjaga hutan? Atau hanya seseorang yang terlalu bergulat dan tinggal di dalamnya?
“Kau hanya lewat?” tanyanya tanpa menoleh, “atau perlu mendengar dongeng antah berantah pengisi waktu luang?”
Aku tertegun. Tidak langsung menjawab. Kuputuskan duduk di sisinya. Kulepaskan ransel di punggungku. Dan meletakkannya di atas tanah.
“Aku ingin tahu.”
Pisau itu berhenti. Ia menatapku sesaat, lalu mengangguk pelan, seolah sesuatu dalam dirinya setuju untuk dibuka.
Aku membuka tumbler-ku. Seteguk air menyejukkan tenggorokanku.
“Berceritalah, Paman,” kataku akhirnya. Dan hutan seperti membuka lipatan yang disembunyikan.
“Enggang,” katanya sambil mengunyah sirih, “tidak lahir dalam satu penciptaan. Ia tumbuh dari beberapa kegagalan manusia memahami batas.”
Ia menoleh. Matanya meredup, tapi tetap bercahaya.
“Dengarkan. Tapi jangan coba memilikinya.”
***
Perempuan yang Menyimpan Cahaya
Pernah ada seorang perempuan muda turun dari langit tanpa suara. Ia menuruni puncak pohon tertinggi, yang cabang-cabangnya nyaris menyentuh langit. Ia menyimpan terang di dalam tubuhnya. Kau kira itu cahaya? Tidak. Itu luka yang belajar bersinar. Hangat, berdenyar, serupa matahari yang baru tumbuh. Perempuan itu pun belajar menjejak tanah, menciumi bau dedaunan yang basah oleh hujan, dan menyimak sungai yang berbicara lewat arusnya.
Ia lalu jatuh cinta pada seorang pemburu. Tangannya begitu cekatan memanjat, menggunakan sumpit atau parangnya. Langkahnya berjejak ringan. Seekor rusa muda atau seekor burung, cukup untuk satu musim tanpa kelaparan atau kelayapan berburu dalam rimba. Ia mengenal batas antara lapar dan rakus, antara hidup dan mengambil hidup.
Artikel Terkait
Cerpen Orang-Orang Bloomington Karya Budi Darma Menang PEN America Literary Awards 2023
Pater Budi Kleden SVD: Imam, Pengamat Sastra, Kritikus Sosial, dan Kini Ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel
Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut Menjadi Stimulus Tumbuh Kembangnya Sastra Lisan Kalimantan Barat
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo