Mereka bertemu di cabang tertinggi, di antara bayu dan sunyi yang saling menjaga. Di sana, waktu seakan berhenti mengalir. Namun batas adalah sesuatu yang mudah dilupakan manusia. Waktu sanggup mengubah wataknya. Lelaki itu mulai mengambil lebih dari yang ia butuhkan. Daging menumpuk. Tulang-belulang mengering. Ia pun mulai menebang pohon untuk membuka jalan. Ia belajar menikmati kuasa yang tumbuh dari kepemilikan.
Pepohonan di hutan semakin jarang. Suara burung pun mulai berkurang. Hutan menjadi sepi bukan karena sunyi, tapi karena karena kehilangan keriuhannya, juga semaraknya. Dan perempuan itu, yang menyimpan terang, mulai merasa dunia kian kelam. Ketika mereka bertemu kembali, perempuan itu menatapnya dengan pandangan yang aneh.
“Kau berubah,” kata perempuan itu. “Aku merasa tidak mengenalmu lagi.”
Lelaki itu hanya tertawa kecil.
“Aku hanya menjadi lebih kuat.”
Perempuan itu tidak turut tertawa. Ia juga tidak menangis. Ia membuka kedua tangannya. Dari kulitnya, cahaya merembes keluar, mula-mula reperti retakan halus, lalu pecah menjadi sinar yang menyilaukan. Cahaya itu menjelma sepasang sayap. Tubuhnya bergetar. Tulangnya memanjang. Rambutnya menjelma bulu hitam berkilau. Wajahnya mengeras menjadi lengkung paruh.
Ia mengepak, sekali, dua kali, lalu terangkat, meninggalkan lelaki itu, meninggalkan bumi yang tak lagi ia kenali, di antara sisa-sisa yang tidak lagi hidup. Sejak itu, ia tak pernah kembali. Ia hanya melintas di cakrawala, membawa serpihan kasih yang tak menemukan rumah.
***
Pemburu yang Dikejar Panahnya Sendiri
Seorang pemburu lain lahir di waktu yang berbeda. Ia mumpuni, piawai membaca jejak seperti mengartikan nasib. Ia mendengar arah angin seperti bisikan. Awalnya, ia berburu untuk bertahan hidup. Lalu, berburu untuk merasa hidup. Begitulah, ia tidak belajar dari hutan, ia belajar menguasainya. Ia mengenal jejak, bukan untuk memahami, tapi untuk memburunya. Ia mendengar angin, bukan untuk membaca arah, tapi untuk menembusnya.
Kau kira itu keahlian? Tidak! Itu keserakahan yang menemukan caranya. Setiap kali masuk hutan, ia menembaki apa saja yang bergerak. Burung, rusa, bahkan pohon yang tak bisa berlari dan menghindar. Hingga, pada suatu senja, ia melihat seekor burung di puncak pohon tertinggi. Diam. Tegak. Seolah menjadi bagian dari langit.
Pemburu itu bersiap, membidik. Anak sumpitnya melesat membelah udara, lalu berhenti, seperti menabrak sesuatu yang tak terlihat. Kau kira itu angin? Bukan, itu penolakan. Hutan menahan napas. Perlahan, anak sumpit itu berbalik arah. Menderu seraya mengingat asalnya. Menemukan dada yang mengirimnya.
Ia terjungkal di tanah dengan berlumuran darah. Namun tak berhenti sampai di situ. Kedua lengannya memanjang menjadi sepasang sayap. Matanya tetap tajam, tapi tak lagi mengenali arah. Ia terbang, berputar, tanpa tujuan. Kau kira itu hukuman? Tidak itu ingatan yang tak bisa dilepaskan. Sejak itu, enggang juga menjadi pengingat bahwa sesuatu yang dilepas manusia suatu hari akan kembali mencarinya.
***
Napas yang Dipinjam
Kisah ketiga bertutur lebih senyap, hampir menyerupai bisikan. Di sebuah kampung, seorang anak lahir dengan napas yang tersendat. Setiap kali ia menghirup udara, dadanya mengeluarkan sedu, seperti dedaunan yang diremas perlahan. Bibirnya memucat, dan jemari tangannya terasa membeku.
Ibunya memeluknya erat setiap malam, seakan khawatir ia akan menghilang kapan saja.
“Pelan saja,” bisiknya.
Artikel Terkait
Cerpen Orang-Orang Bloomington Karya Budi Darma Menang PEN America Literary Awards 2023
Pater Budi Kleden SVD: Imam, Pengamat Sastra, Kritikus Sosial, dan Kini Ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel
Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut Menjadi Stimulus Tumbuh Kembangnya Sastra Lisan Kalimantan Barat
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo