Ia tersenyum tipis.
“Yang paling lama mengendap dalam sanubarimu.”
Aku meninggalkan hutan itu saat rimba turun perlahan. Suara mesin kembali terdengar, lebih dekat dari sebelumnya. Bergemuruh. Seperti tidak puas memporak-porandakan tanah dan segala yang hidup di atasnya. Kau pikir itu angin? Tidak! Itu pepohonan yang runtuh sebelum waktunya. Itu tanah dan batu yang luluh lantak tanpa sekehendaknya. Sungai mengalir keruh, membawa bayangan yang pecah di permukaannya.
Aku teringat keempat kisah itu; tentang cinta, batas, kehilangan, dan perubahan.
Di atas sana, seekor enggang melintas sembari mengepakkan sepasang sayapnya. Nyaris tak terlihat. Di bawahnya, tanah tercabik di sana-sini. Seperti luka yang menggurat permukaan bumi. Pepohonan menghilang tanpa sempat menua. Asap menggantung, menyamarkan langit.
Aku berhenti sejenak. Entah kenapa, aku tidak lagi berusaha memahami kemuskilan kisah-kisah yang baru saja melekat dalam ingatanku. Barangkali mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menghindar, menjauh dari sesuatu yang perlahan hilang. Barangkali, suatu hari nanti, ketika yang tersisa hanya cerita, kita akan menyebutnya dongeng. Tentang makhluk yang pernah mencoba tinggal di dunia, lalu memilih langit karena bumi tak lagi menjadi hunian yang menyenangkan.
Bumi Senentang, 16 April 2026
Tentang Penulis: Willy Wedhanta (Willibrordus W.), kelahiran Entuma, 19 Maret 1975. Mulai menulis fiksi dan non fiksi sejak di SMA St Paulus Nyarumkop. Semakin intens ketika menimba ilmu di STFT Widya Sasana Malang. Cerpen dan puisinya berkali-kali menjuarai lomba menulis nasional, dan mengisi puluhan antologi bersama. Buku terbarunya Pelan-pelan Aku Pulih (Prince Publishing, April 2026). Bekerja dan tinggal di Lengkong Bindu-Sintang, Kalimantan Barat. ***
Artikel Terkait
Cerpen Orang-Orang Bloomington Karya Budi Darma Menang PEN America Literary Awards 2023
Pater Budi Kleden SVD: Imam, Pengamat Sastra, Kritikus Sosial, dan Kini Ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel
Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut Menjadi Stimulus Tumbuh Kembangnya Sastra Lisan Kalimantan Barat
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo