Minim Air Bersih Pascabanjir, Penyakit Kulit Mulai Menyerang Warga Aceh Tamiang

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Senin, 29 Desember 2025 | 10:27 WIB
Warga di Tamiang Hulu, Aceh Tamiang menggunakan air sisa banjir untuk beraktivitas.  (Dok. Instagram/a.muhammadkurniawan.s)
Warga di Tamiang Hulu, Aceh Tamiang menggunakan air sisa banjir untuk beraktivitas. (Dok. Instagram/a.muhammadkurniawan.s)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Keterbatasan akses air bersih masih menjadi persoalan serius bagi warga terdampak banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Hingga kini, sebagian masyarakat terpaksa memanfaatkan air banjir untuk kebutuhan harian seperti mandi, mencuci pakaian, hingga membersihkan peralatan makan.

Kondisi ini memicu keluhan kesehatan, terutama penyakit kulit. Salah seorang warga Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, mengungkapkan munculnya gatal-gatal hingga luka koreng setelah menggunakan air yang diduga tercemar sisa banjir.

“Biasanya kan mandi air bersih pakai air PAM itu kan, sekarang pakai air apa? Air sumur. Air sumur kan juga dari air banjir ini,” ujarnya dalam unggahan akun Instagram @a.muhammadkurniawan.s, Sabtu (27/12/2025).

Baca Juga: Warga Gayo Lues Tak Berebut Bantuan, Justru Beri Durian ke Petugas

“Entah airnya kena apa, datang dari mana, mungkin bakteri nempel ke kulit,” lanjutnya.

Ia menambahkan, dampak tersebut tak hanya dirasakannya secara pribadi, tetapi juga dialami oleh anaknya.

“Itu korengan anak saya, gatal-gatal. Termasuk saya kena gatal-gatal ini,” tuturnya.

Dalam video yang beredar, tampak warga mencuci peralatan dapur menggunakan air berwarna coklat keruh.

Situasi darurat membuat warga tak memiliki banyak pilihan selain memanfaatkan air yang tersedia meski berisiko bagi kesehatan.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2018–2021, dokter Daeng Mohammad Faqih, menegaskan bahwa ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendesak dalam penanganan bencana.

“Ketersediaan air dan makanan ini penting banget. Kalau tidak tersedia, maka mungkin timbul komplikasi penyakit yang lain. Itu yang dikhawatirkan,” ujarnya dalam podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Sabtu (27/12/2025).

Baca Juga: Dari Mimbar Gereja ke Meja Hukum, Begini Perjalanan Pdt Denny Nafi Membela Kaum Lemah Lewat LBH AHAVAH YADA

Ia juga menekankan pentingnya pengiriman tenaga medis yang sesuai dengan karakter bencana banjir.

“Lini pertama itu (dokter) penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bencana banjir. Banjir itu air, misalnya terhirup ke paru-paru, termakan ke saluran cerna, kena mata jadi penyakit mata, kena kulit jadi penyakit kulit,” paparnya.

“Jadi, lini pertama dokter itu berbeda. Jadi, yang harus dikirim itu misalnya penyakit dalam, penyakit paru, kemudian dokter mata, dokter kulit,” pungkasnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X