Kata Pakar, Serangan Ransomware pada BRI Ternyata Janggal, Data Hacker Sudah Ada di Scribd

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 25 Desember 2024 | 21:27 WIB
Klaim bahwa BRI menjadi korban serangan ransomware pun akhirnya diragukan oleh masyarakat. (Dok. Pontianak Globe)
Klaim bahwa BRI menjadi korban serangan ransomware pun akhirnya diragukan oleh masyarakat. (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Isu Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi korban ransomware oleh kelompok hacker bernama Bashe sempat menghebohkan masyarakat beberapa hari terakhir.

Kabar ini pertama kali muncul melalui unggahan akun @FalconFeedsio di platform X pada 18 Desember 2024.

Baca Juga: CEO Promedia di BRI CoreLab Palembang, Bisnis Informasi Tak Akan Pernah Mati

Unggahan tersebut berbunyi, "Ransomware Alert. Bank Rakyat Indonesia, has fallen victim to Bashe Ransomware." yang berarti, "Peringatan Ransomware. Bank Rakyat Indonesia, telah menjadi korban Bashe Ransomware."

Meski belum dapat dipastikan kebenarannya, unggahan ini sukses menarik perhatian publik.

Minimal, masyarakat kini mengetahui keberadaan kelompok ransomware bernama Bashe, yang juga dikenal sebagai APT73 atau Eraleig, salah satu kelompok Advanced Persistent Threats (APT).

Baca Juga: Nasabah BRI Jangan Panik jika Uang Cash Habis saat Libur Nataru, BRI Sediakan Rp24,6 Triliun untuk Kebutuhan Nasabah

Bashe mulai dikenal sejak 2024 dan biasanya beroperasi dengan motif finansial, menargetkan sektor-sektor bernilai tinggi seperti manufaktur dan perbankan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Inggris, Australia, dan India.

Dalam kasus ini, Bashe menetapkan tenggat waktu hingga Senin, 23 Desember 2024, pukul 16.00 WIB, untuk pembayaran tebusan sebesar 5 Bitcoin atau sekitar Rp7,9 miliar.

Jika tidak dibayar, mereka mengancam akan menjual data yang mereka klaim berhasil diperoleh kepada pihak ketiga.

Teguh Aprianto: Serangan yang Janggal dan Hacker Terkocak

Kabar ini juga menarik perhatian Teguh Aprianto, seorang pakar keamanan siber sekaligus pendiri Ethical Hacker Indonesia.

Sejak awal, Teguh mencurigai kejanggalan dalam klaim ransomware ini.

Menurut Teguh, data yang diklaim oleh Bashe tidak meyakinkan.

Karena itu, ia memilih untuk tidak berkomentar hingga tenggat waktu penebusan terlewat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: BRI

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X