PONTIANAKGLOBE.COM, MYANMAR -- Komunitas Kristen di Myanmar yang dilanda perang merayakan Natal dengan tenang tahun ini.
Hal ini untuk menunjukkan solidaritas terhadap mereka yang mengungsi akibat konflik internal antara junta militer dan pemberontak.
Umat Kristen di Myanmar merayakan Natal tahun ini sebagai bentuk solidaritas terhadap ratusan ribu orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya pertempuran antara junta militer dan kelompok pemberontak etnis.
Baca Juga: 20 Misionaris Katolik Terbunuh Sepanjang Tahun 2023
Militer telah berkuasa sejak 2 Februari 2021 ketika mereka menggulingkan Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokratis dan menerapkan pemerintahan brutal di negara tersebut untuk menghancurkan perlawanan apa pun.
Sejak itu, umat Kristiani di wilayah mayoritas Kristen di negara bagian Kachin, Kayah, Chin dan Karen, tidak dapat merayakan Natal dan Tahun Baru karena pertempuran tersebut.
Konflik semakin meningkat selama dua bulan terakhir setelah Aliansi Tiga Persaudaraan (3BHA) mengumpulkan tiga kelompok etnis bersenjata -- Tentara Pembebasan, Tentara Arakan, dan Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar melancarkan serangan besar-besaran di seluruh Negara Bagian Shan di utara negara itu.
Pertempuran kini telah menyebar ke wilayah lain di Myanmar, termasuk Negara Bagian Kayah, Chin, dan Kachin.
Baca Juga: Dalam Pesan Hari Perdamaian Sedunia, Paus Ingatkan Risiko Kecerdasan Buatan bagi Perdamaian
Lebih dari 660.000 orang telah mengungsi sejak kampanye militer dimulai pada 27 Oktober sehingga jumlah total pengungsi di Myanmar menjadi sekitar 2,6 juta, menurut PBB.
Sebanyak 12 keuskupan, termasuk Loikaw, Pekhon, Mandalay, dari 16 keuskupan di negara Asia tersebut telah terkena dampak konflik sejak kudeta militer pada tahun 2021.
Pada bulan November, Uskup Celso Ba Shwe dari Loikaw terpaksa meninggalkan Rumah Uskup bersama para imam dan biarawati setelah tentara menduduki Katedral Kristus Raja.
Separuh paroki di Keuskupan telah ditinggalkan oleh umat beriman yang kini mengungsi bersama pastor mereka.
Dalam pesan Natalnya, Uskup Shwe mengajak komunitas Katolik setempat untuk tidak berkecil hati dengan peristiwa-peristiwa ini.
Ia mengingatkan umat beriman untuk melakukan kehendak Tuhan dengan percaya kepada-Nya, dan mendorong serta menjaga satu sama lain, untuk menunjukkan kasih dan berbuat baik.
Gereja dan biara di Keuskupan Lashio di Negara Bagian Shan juga telah dirusak.
Artikel Terkait
Vatikan Dukung Paguyuban Wartawan Katolik Republik Indonesia Kampanye Perdamaian
Dubes Vatikan Msgr Piero Pioppo: Bangsa Indonesia Dianugerahi Tiga Kekayaan
Kardinal Miguel Angel Ayuso dari Vatikan Gandrung Konsep Islam Wasatiyyah, DR HC dari UIN Sunan Kalijaga
Paus Fransiskus Telah Sehat dan Kembali ke Vatikan Setelah 3 hari Dirawat di Rumah Sakit Gemelli Roma
Walk for Peace: 127 Bhikku dan Umat awam Buddha Theravada Thailand Kunjungi Vatikan Majukan Perdamaian Global
Kota Vatikan Mengimbau Penghentian Penggunaan Peluru Kendali di Ukraina untuk Kepentingan Perdamaian
Buku Baru tentang Sinodalitas Memaparkan Wawasan Pemimpin Gereja Pasca Konsili Vatikan II
Paus Fransiskus Sambut Kunjungan Yang Mulia Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa ke Vatikan