Aku merasa kekerasanku runtuh, dengan sesuatu yang baru saja bermula.
***
Kami kembali ke perahu. Aku duduk di buritan. Kayunya masih berderit. Tapi kali ini terasa akrab.
Aku memegang jala.
Dengan tanganku yang semula.
Tapi, kali ini dengan alasan yang berbeda.
Sebelum melempar, aku termangu sejenak. Kurasakan wajahku masih basah oleh air mata. Mungkin memang tidak perlu kering. Sebab, dengan begitu, perahu bisa kembali, jala bisa ditebarkan, dan batu yang retak tidak runtuh, karena dipakai untuk tujuan yang lebih besar.
Kulemparkan jalaku. Permukaan danau bergetar.
Kali ini aku tidak ingin menunggu, apalagi menunda. Aku pulang, tanpa perlu menyangkal apa pun. Sebab, sesungguhnyalah, yang pulang dari danau tidak mesti ikan. Kali ini, seseorang yang akhirnya berani mengakui apa yang dulu ia sangkal, meski terlambat, seperti perahu yang kembali membawa lebih banyak air mata daripada tangkapan. ***
* Bumi Senentang, 27 April 2026
* Tentang Penulis: Willy Wedhanta (Willibrordus W.,SS), cerpenis kelahiran 19 Maret 1975. Menenun kata sebagai cara menyimpan jejak – antara kenangan yang tak selesai dan hidup yang terus berjalan. Puisi dan cerpennya meramu tradisi lokal dengan nuansa alkitab, menghadirkan ritus, ingatan, dan kehilangan sebagai ruang tafsir yang hening tapi menggema. Buku antologi terbarunya Resonansi Jejak dalam Aksara (Emberwing Publisher, 2026). Bekerja dan menetap di Lengkong Bindu, Kayan Hilir, Sintang, Kalimantan Barat. Akhir-akhir ini tertarik menerjemahkan puisi dan cerpen berbahasa Inggris.