Beberapa orang tersenyum seperti mengejek.
“Airnya sama saja,” kata seorang kawan.
Aku hampir mengangguk.
Tapi entah kenapa, tanganku sudah bergerak.
“Ayo kita kembali menjala,” kataku.
Perahu memutar menjauhi pantai. Dikayuh dengan lunglai. Menuju tempat terdalam.
“Di sini,” ujarku tanpa semangat.
Jala dilemparkan. Ia mengembang, lalu tenggelam. Permukaan danau bergetar. Jalinan jala itu meluncur deras, seakan ditarik sesuatu.
“Tarik!”
Tali jala menegang di tangan. Seratnya melukai kulit telapak tanganku yang lecet.
Terasa berat.
Sungguh berat. Semakin ditarik, semakin menahan.
Ketika jala itu mulai terlihat, ikan-ikan berkilau di dalamnya. Sisiknya memantulkan cahaya pagi yang baru muncul. Perahu kami miring oleh beratnya. Air berlomba masuk perahu.
“Pegang! Jangan dilepas!”
Kami menariknya bersama-sama. Napasku memburu. Tanganku gemetar.