Aku menatap permukaan danau. Kami tidak hanya gagal menangkap ikan. Kami akan pulang tanpa sesuatu yang bisa kami sebut alasan.
***
Kabut pagi mulai menguap. Garis pantai mulai terlihat, meski masih samar.
Ada seseorang berdiri di sana.
Diam.
Seperti sudah lama menunggu.
“Siapa itu?” bisik seseorang.
Aku menyipitkan mataku. Sosok itu tidak bergerak.
“Hei!” suaranya menyapa kami.
“Kalian punya sesuatu untuk dimakan?”
Kami saling memandang.
“Tidak ada!”
Ia diam sejenak.
“Bertolaklah ke tempat yang dalam,” serunya. Aku merasa akrab dengan kalimat itu. Duc in altum. Masuklah lebih dalam, bukan sekadar kedalaman danau, melainkan sesuatu yang aku hindari selama ini.
“Lemparkan jala ke sebelah kanan perahu.”