Kosong.
Seseorang mengumpat pelan. Yang lain menggaruk bahunya. Lenyap sudah semangat kami. Bahkan untuk meluapkan emosi pun sudah tak mampu. Kami sudah melewati tahap itu.
Yang terlintas di benakku justru yang lain.
Api unggun untuk berdiang, dan wajah-wajah asing yang menyelidiki penuh curiga.
“Kau salah satu dari mereka?”
Aku tergeragap, lalu menunduk. Aku tak ingin dikenali.
“Aku tidak mengenal-Nya.”
“Benar?”
“Aku tidak mengenal-Nya!”
“Bukankah kau bersama Dia?”
Suara perempuan itu menudingku dengan sengit.
Tiga kali.
Setelah itu, aku hanya mendengar deru napasku sendiri.
“Kalau begini terus, lebih baik kita pulang saja,” kata seseorang.
“Pulang dengan perahu kosong?” ujar yang lain.