Cerpen: Willy Wedhanta
Post tenebras spero lucem (Usai kelam, aku berharap terang) – Pepatah Latin
“Air mata adalah laut kecil tempat kita kembali belajar berenang tanpa pernah benar-benar sampai di seberang.”
MALAM hampir selesai ketika kami berhenti menjala. Perahu kami sedikit bergoyang oleh riak gelombang danau, serupa tubuh renta menahan dingin. Kayunya rapuh, menyimpan bau amis, dan tua. Tali-tali kasar menggesek telapak tangan yang sejak tadi sudah perih. Air danau memucat, tapi belum terlihat sepenuhnya.
“Apakah kita mesti mengulang lagi?” Tanya seseorang.
Tidak seorang pun menjawab.
Kami berangkat sejak senja. Melempar jala, menariknya, lalu melempar lagi. Yang kembali hanya air, sampah danau, dan sisa-sisa harapan yang makin menipis.
Aku berdiri di buritan. Danau terbentang seperti kitab yang enggan dibaca. Tiga tahun sebelumnya, danau ini adalah rumahku, ladang sumber nafkahku. Menjadi nelayan, begitulah warisan yang ditinggalkan ayahku. Lalu, kutinggalkan begitu saja, bergabung dengan kawanan kecil, dari seseorang yang dipanggil Guru. Mengembara dari desa dan kota, membawa sukacita, kasih dan harapan.
Kini, hatiku, perahu kayu tua, rapuh, berderit, menahan gelombang yang tak terlihat. Tiga tahun itu seperti merenggut keahlianku untuk mengenali bagian-bagian dari danau ini yang menjadi sarang persembunyian ikan-ikan. Aku seperti menunggu sesuatu yang tak pasti, selain lelah yang betah menetap.
“Kita coba lagi?” suara yang lain terdengar seperti putus asa.
Aku mengangguk.
Jala dilempar.
Kami menunggu.
“Tarik.”
Ringan.