pontianak-insights

Sungai di Belakang Rumah Ibu

Jumat, 8 Mei 2026 | 11:07 WIB
Ilustrasi sungai di belakang rumah. (Pexels @damir k)

Aku tidak tahu aku bertanya pada ibu, atau pada alam, atau mungkin Tuhan.

Kulihat ibu termangu. Menatap hujan dengan pandangan yang tak kumengerti.

“Supaya kamu berhenti menanti yang sempurna,” katanya. “Sudah saatnya kamu bisa melihat apa yang masih bertahan.”

Aku terdiam.

Hujan masih berlanjut. Curahannya perlahan mengisi celah-celah tanah yang retak. Tidak mengalir. Atau belum. Tetapi tidak lagi kosong.

Aku menutup mataku. Dalam gelap, aku melihat bayangan ayah. Ia tidak berkata apa-apa. Tidak melambaikan tangannya ke arahku. Ia hanya berdiri di seberang, seperti seseorang yang mengerti bahwa tidak semua pertemuan harus berlangsung di dunia ini.

Aku ingin memanggilnya. Tetapi aku sadar, yang ingin kupanggil bukan ayah. Melainkan diriku yang dulu.

Aku membuka mataku. Sungai itu belum pulih menjadi sungai lagi. Tetapi setidaknya, ia bukan jasad lagi.

Dadaku berdegup kencang. Ah, sesuatu yang lama mati itu tidak hidup kembali, tidak juga. Ia hanya; tidak sepenuhnya mati. Aku biarkan diriku terbenam, di belakang rumah ibu, dalam terpaan hujan yang belum juga reda, dengan iman yang tak utuh, dengan Tuhan yang tidak kunjung menjawab. Inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Keselamatan, demikian benakku mengingat, bukan tentang diselamatkan, melainkan tentang bertahan cukup lama, agar tidak hilang sepenuhnya. ***

 

Lengkong Bindu, 31 Desember 2025

 

Tentang Penulis: Willy Wedhanta (Willibrordus W.,SS) kelahiran Entuma, Sanggau Kapuas, 19 Maret 1975. Pernah mendalami studi filsafat teologi di STFT Widya Sasana Malang. Memiliki hobi menulis cerpen dan puisi sejak SMA. Aparatur pemerintahan dan pengurus gereja ini bergiat di komunitas Literasi Dayak. Menetap di Lengkong Bindu, Sintang, karyanya dimuat dalam puluhan antologi bersama. Antologi terbarunya Suara Terbungkam (Teori Kata, 2026). ***  

 

 

Halaman:

Tags

Terkini