Sungai di Belakang Rumah Ibu

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 8 Mei 2026 | 11:07 WIB
Ilustrasi sungai di belakang rumah.  (Pexels @damir k)
Ilustrasi sungai di belakang rumah. (Pexels @damir k)

“Ayah tak pernah lagi menurunkannya ke sungai,” gumamku. Ah, ada hal-hal yang tidak rusak oleh waktu, tetapi karena diabaikan.

“Airnya sudah lebih dulu pergi,” ku dengar suara ibu di belakangku.

Aku menoleh. Ibu berdiri di ambang pintu belakang, separuh tubuhnya ditelan cahaya lampu.

“Air tidak pergi,” kataku, pelan, seperti mengulang sesuatu yang hampir aku lupakan.

Ah, sungai itu masih di sana. Terbaring seperti sebuah kesalahan yang tak bisa diperbaiki. Aku duduk di pinggirnya.

“Apa yang membuatmu memutuskan untuk pulang?” suara ibu bergema dalam gelap.

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari apa pun.

“Aku gagal,” sahutku.

“Semua orang gagal,” ujar ibu.

“Aku meninggalkan Tuhan.”

Ibu terdiam sesaat. “Atau kau yang merasa ditinggalkan?”

Aku tertawa hambar. Kering.

“Bedanya apa?”

Ibu tidak langsung menjawabku. Ku dengar langkahnya menuruni tebing. Ia lalu duduk di sampingku, memandang sungai itu seperti membaca kitab yang huruf-hurufnya hambus oleh cuaca.

“Kau ingat ayahmu?” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X