Aku mengangguk.
“Suatu malam ayahmu pulang tanpa membawa ikan. Ia duduk di sini sampai pagi. Kukira ia marah pada sungai. Ternyata tidak.”
“Kenapa?”
“Ia bilang, sungai tidak pernah berjanji akan memberi. Hanya manusia yang terlalu berharap.”
Semilir angin menderu sejenak, mengantarkan bau lumpur yang letih.
Aku menunduk. Sesuatu dalam dadaku bergerak, seperti luka yang tersentuh setelah lama dilupakan.
Di langit, kilat sesekali menyambar. Hujan pun meluruh. Tanpa aba-aba, menderas begitu saja. Seperti seseorang yang murka. Memukul tanah, menghantam pohon dan dedaunannya, memaksa segalanya untuk menerima tanpa plihan.
Aku tak bergerak. Begitu juga ibu.
Air menampar wajahku. Dingin. Nyata.
Genangan mulai terbentuk di dasar sungai. Kecil. Tidak berarti. Tetapi cukup untuk membuat bayangan.
“Apa sungai ini akan hidup lagi?” tanyaku di antara gemuruh hujan.
Ibu menggeleng.
“Tidak akan seperti semula.”
Jawaban itu terasa seperti sebuah vonis; tetapi juga seperti kejujuran yang selama ini kutentang.
“Lantas untuk apa semua ini?”
Artikel Terkait
Contoh Puisi Perayaan Imlek 2024 oleh Siswa Kelas 1 SD, Sederhana Namun Penuh Makna dan Nilai Persahabatan
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo
Tonggeret Dalam Cawanku
Mendongeng Muasal Enggang
Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi