pontianak-insights

Sungai di Belakang Rumah Ibu

Jumat, 8 Mei 2026 | 11:07 WIB
Ilustrasi sungai di belakang rumah. (Pexels @damir k)

“Kau akhirnya kembali.”

Aku masuk. Bau dapur menyambutku. Kayu bakar, nasi yang hampir matang, dan asap kecil yang membubung seperti doa yang belum selesai. Ibu duduk di depan tungku. Wajahnya telah jauh berubah, diwarnai gurat-gurat usia, tetapi matanya masih seperti dulu. Di sana masih ada tempat untukku, tanpa syarat.

“kau tampak kurus sekali. Lama juga kau merantau,” katanya.

Aku tidak menceritakan semuanya. Kegagalanku; malam-malam kelamku, atau keputusasaanku. Tidak juga hendak mengingat betapa mudahnya aku melenggang meninggalkan rumah dulu, seolah dunia di luar bisa memberiku sesuatu yang lebih.

“Aku tersesat,” kataku tergeragap melihat kerling mata ibu.

Ibu mengangguk. Tidak bertanya ke mana. Seolah ia tahu, tersesat bukan soal jalan, melainkan soal kehilangan arah pulang. Ibu selalu begitu. Tidak pernah memaksa luka berbicara.

Malam pun luruh tanpa suara. Setelah mandi di sumur di belakang rumah, tubuhku terasa lebih segar. Ibu menyendukkan nasi ke piringku. Seperti hendak meyakinkan, bahwa hidup bisa dilanjutkan. Kami makan dalam diam. Aku masih sedikit canggung dengan suasana di sini.

“Ayahmu dulu sering membisu seperti itu,” kata ibu tiba-tiba.

Aku berhenti mengunyah.

“Diam bagaimana?”

“Seperti sedang mendengar sesuatu yang tidak kita dengar.”

Aku tidak membalas. Aku tahu diam yang dimaksud ibu. Aku membawanya dari kota; diam yang bukan tenang, melainkan meluang. Hampa.

Di luar, ilalang bergoyang ditiup angin; tumbuh liar, tak pernah sempat disiangi. Aku teringat sesuatu; bahwa yang baik dan buruk selalu tumbuh berdampingan, dan manusia sering terlambat menyadari mana yang harus dipelihara. Tidak ada yang peduli mana yang gandum, mana yang belukar. Semua dibiarkan sampai waktu sendiri yang memutuskan siapa yang layak dibakar.

Selesai makan, aku pergi ke belakang rumah, sambil menyulut sebatang rokok.

Lanting sudah tak terlihat lagi. Hanya ada rakit ayah yang tersangkut di batang jambu. Ikat yang merangkainya hampir lepas. Tali tambatannya pun putus. Rakit itu tampak merana. Seperti mayat yang tak diperlakukan selayaknya. Seperti jasad yang tak sempat dimakamkan. Aku menyentuhnya, dan seketika ingatan itu menjelang; ayah yang tertawa, air yang memercik, matahari yang memantul di permukaan sungai seperti berkat yang tak pernah ditakar.

Halaman:

Tags

Terkini