Cerpen: Willy Wedhanta
Aku pulang pada musim ketika tanah retak seperti telapak tangan yang terlalu lama menggenggam doa. Pada pelukan sungai, pelukan ibu, di Sayu…
Di kota, aku gagal menjadi seseorang yang namanya disapa dengan ketakjuban dan takzim. Pekerjaan datang dan pergi serupa angin yang tak sempat bersinggah. Aku pernah mencoba mencintai, tetapi yang kutemukan hanya diriku yang makin asing. Pada suatu malam, yang terlalu terang oleh kemilau lampu jalan, aku menyadari, ada sesuatu dalam diriku yang meranggas. Dan aku tak tahu, bagaimana mesti menyegarkannya lagi.
Setiap pagi aku bangun dengan nama yang berbeda, dan setiap malam aku tidur dengan wajah yang tidak kukenal. Tuhan di sana tidak mati; Ia hanya terlalu sibuk untuk mendengar orang-orang kecil seperti aku. Maka aku berhenti berdoa, dan sejak itu, sesuatu yang meranggas dalam diriku ikut mongering dan mati.
Maka aku pulang. Ke lengkungan sungai yang menenangkan, pada pelukan ibu yang meneduhkan, di Sayu.
Jalan setapak menuju rumah ibu masih sama. Berdebu, sisa-sisa aspal serupa panu, dengan bebatuan kasar mencuat di sana-sini, permukaannya sedikit miring ke kanan, dengan pohon jambu monyet yang dulu sering kupanjat untuk melihat apakah ayah sudah kembali dari hilir. Tetapi sungai di belakang rumah itu mati.
Bukan kering, tetapi mati! Ada perbedaan yang tak perlu dijelaskan panjang lebar; yang kering masih bisa berharap hujan untuk segar lagi, yang mati hanya menunggu dilupakan.
Sungai itu terbaring, menyisakan lumpur dan bebatuan yang tak ubahnya tulang-tulang kenangan. Tidak ada suara gemerisik aliran air yang menyejukkan, tidak terlihat riak di permukaannya yang mengeruh. Seolah waktu pernah melintas di sana, lalu memutuskan untuk tidak kembali.
Ayah pernah berujar, ketika aku masih bocah tanggung, air tidak akan pernah lenyap, ia hanya naik ke langit, lalu pulang sebagai hujan. Ia mengatakannya sambil mengikat rakit bambu yang dibuatnya sendiri, angkutan yang dulu didorongnya ke sungai sambil tertawa, seakan-akan sungai adalah halaman rumah yang tak akan habis. Tangan ayah kasar, penuh luka kecil, tetapi tak mengurangi sukacitanya menjemput hari, meraup rejeki, dengan menyeberangkan orang-orang. Tertawanya, mengesankan seolah dunia tidak punya akhir.
“Apa pun yang hilang,” katanya, “akan menemukan jalan pulangnya.”
Aku mempercayainya ketika itu. Aku, adalah guru kehidupan bagiku. Sekarang, aku berdiri di tepi sesuatu yang tak lagi percaya pada dirinya sendiri. Sepertinya ayah berbohong padaku.
Rumah ibu masih berdiri seperti kesabaran yang tak kunjung habis. Dindingnya mengelupas, tetapi pintunya tetap terbuka. Aku berdiri cukup lama sebelum mengetuk, seperti seseorang yang ragu apakah ia masih diizinkan masuk.
“Ibu.”
Suaraku terdengar lirih, nyaris seperti permintaan maaf.
Dari dalam, jawabannya datang tanpa tergesa, tanpa sedikit pun nada curiga, tanpa berjarak.