pontianak-insights

Mendongeng Muasal Enggang

Rabu, 29 April 2026 | 13:59 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @billsalazar)

Musim kemarau datang. Berlangsung begitu lama, sampai sungai-sungai menyusut, tanah meranggas, dan udara terasa sesak. Anak itu jatuh sakit.

Malam itu, napasnya tersengal-sengal. Seperti sekarat. Ada jeda panjang di setiap tarikan, seperti langkah yang ragu untuk dilanjutkan. Ibunya duduk di sampingnya. Tidak mampu lagi merapalkan doa-doa. Kata-kata menjelma tangis yang pecah sebelum mencapai langit dewata.

“Petara, ambil aku saja,” pinta perempuan itu menghiba, “asalkan anakku tetap hidup.”

Tidak terdengar jawaban dari langit.

Menjelang fajar, sesuatu yang mustahil terjadi. Barangkali itu jawaban Petara. Tanpa suara. Ia tidak mencabut nyawa yang sekarat hanya mengubahnya. Napas anak itu tak hilang, hanya berubah wujud. Pagi datang tanpa tangisan. Tetapi tikar itu melompong, dengan menyisakan hangat di sisi bekas pembaringan anak.

Di atas atap rumah, seekor enggang bertengger. Ia sempat terpaku di sana, sebelum akhirnya berkicau dengan suara serak, pendek, seolah ada sesuatu yang mengganjal di lidahnya. Ia terbang rendah, mengitari rumah itu berkali-kali. Kau kira itu burung? Tidak! Itu sesuatu yang berusaha mengingat, atau barangkali masih ingin tinggal. Boleh jadi, sisa napas yang belum berakhir.

***

Sepasang Kekasih yang Tak Menyatu
Kisah ini tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi berasal dari dunia yang berbeda. Mereka bertemu di suatu perbatasan, di mana sungai melambat dan akar yang merambat di hutan. Yang seorang muncul dari dalam air yang terus bergerak. Yang seorang lagi berasal dari hutan yang menyimpan keheningan. Kau kira cinta saja cukup? Tidak! Cinta tidak selalu menemukan tempat untuk tumbuh.

Mereka saling mencintai tanpa mengumbar rayuan gombal. Kehadiran saja sudah cukup, setidaknya begitu yang terlintas di benak keduanya. Namun keinginan keduanya berbeda. Setiap pagi, yang satu ingin pergi. Yang seorang, setiap senja, ingin kembali. Mereka mencoba membangun jembatan di antara keduanya. Tetapi jarak itu, meski tak terlihat, tetap ada dan nyata. Dunia mereka tak pernah benar-benar bertemu.

Pada sebuah malam, mereka memutuskan mengakhiri kebuntuan yang menyesakkan itu. Mereka tidak berdebat, tidak juga meratap. Sebaliknya, keduanya saling membisu. Sebab mereka sadar, asmara keduanya tak kunjung menemukan tempat.

Roh-roh hutan yang menyaksikan merasa iba. Mereka bersepakat mewujudkan keinginan sepasang kekasih itu. Dengan kekuatan gaib, kedua sosok insan yang merana itu berubah rupa. Ringan seperti terlepas dari beban yang tak bisa disatukan.

Pagi harinya, dua ekor enggang terbang dari dahan tertinggi. Sejak itu, katanya, mereka selalu bersama, tanpa harus memilih.

***

Lelaki tua itu mengakhiri kisahnya. Pisau kecilnya terdiam dalam genggaman.

“Mana yang benar?” tanyaku.

Halaman:

Tags

Terkini