Longsor Dini Hari di Bandung Barat, Warga Tak Sempat Menyelamatkan Diri

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Minggu, 25 Januari 2026 | 13:28 WIB
Menyoroti kesaksian korban yang selamat dari insiden longsor yang melanda wilayah Cisarua, Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026. (Dok. Instagram.com/@asarhumanity)
Menyoroti kesaksian korban yang selamat dari insiden longsor yang melanda wilayah Cisarua, Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026. (Dok. Instagram.com/@asarhumanity)

PONTIANAKGLOBE.COM, BANDUNG BARAT -- Bencana tanah longsor menerjang Kampung Pasir Kuning RW 10 dan RW 11, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026), sekitar pukul 03.00 WIB. Peristiwa ini menyebabkan puluhan rumah warga tertimbun material tanah yang longsor dari tebing di sekitar permukiman.

Berdasarkan laporan di lapangan, sekitar 20 rumah terdampak langsung akibat longsor yang dipicu hujan deras selama dua hari terakhir disertai angin kencang. Hingga kini, sebanyak 82 orang masih dinyatakan hilang dalam insiden tersebut.

Baca Juga: Hujan Tak Henti Berhari-hari, Ratna Kenang Detik-detik Banjir Terjang Rumahnya

Operasi pencarian dan penyelamatan melibatkan tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, perangkat desa, serta relawan dari berbagai elemen masyarakat. Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyebut total terdapat 34 keluarga atau sekitar 113 jiwa yang terdampak.

Dari jumlah tersebut, 23 orang berhasil selamat dan delapan orang telah ditemukan meninggal dunia.

“Sampai saat ini ada sekitar 82 orang masih dalam status hilang,” ungkap Jeje di lokasi kejadian, Cisarua, Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026). 

Jeje menambahkan, pemerintah daerah telah menetapkan status darurat bencana mengingat luasnya wilayah terdampak serta besarnya jumlah korban.

Ia menjelaskan bahwa akses menuju lokasi longsor sangat terbatas, sehingga petugas khusus akan diturunkan untuk mengatur jalur distribusi bantuan agar dapat menjangkau korban dengan cepat.

“Saat ini, korban yang diungsikan ditempatkan di posko yang telah disiapkan, sebagian juga tinggal sementara di rumah saudara,” terang Jeje. Meski demikian, penyebab pasti longsor tersebut masih dalam tahap kajian lebih lanjut.

Jeje juga mengaku khawatir dengan kondisi di area bagian atas lokasi longsor karena masih berpotensi menimbulkan risiko lanjutan. Ia pun mengimbau warga di kawasan rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Saya juga mengimbau seluruh warga di daerah rawan bencana, terutama yang tinggal di lereng bukit dan tanah miring untuk tetap waspada karena curah hujan saat ini sangat tinggi,” tandasnya.

Kesaksian datang dari seorang ibu yang selamat dalam peristiwa tersebut. Ia mengaku sempat mendengar suara dentuman keras dari arah hulu pada Jumat malam (23/1/2026), sekitar pukul 23.00 WIB. Menurutnya, longsor mulai terjadi beberapa jam kemudian, sekitar pukul 02.00 WIB.

“Sempat terdengar suara ‘Bum’ itu sekitar jam 11 malam, kemudian kejadiannya jam 2 dinihari,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari unggahan akun Instagram @asarhumanity, pada Sabtu (24/1/2026). 

Ia menuturkan, sebagian warga sempat menyelamatkan diri, namun ada pula yang tidak sempat menghindar.

“Warga ada yang sempat menyelamatkan diri, ada juga yang tidak,” terangnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X