Di Balik Lumpur dan Reruntuhan Banjir Aceh, Aisyah Tetap Memasak untuk Korban Lain di Dapur Umum

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Jumat, 23 Januari 2026 | 08:52 WIB
Cerita warga Pidie Jaya, Aceh yang kini ikut jadi tim memasak di dapur umum. (Dok. Instagram/atika_cahyaa)
Cerita warga Pidie Jaya, Aceh yang kini ikut jadi tim memasak di dapur umum. (Dok. Instagram/atika_cahyaa)

PONTIANAKGLOBE.COM, PIDIE JAYA -- Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2026 masih meninggalkan luka mendalam bagi warga terdampak. Banyak keluarga kehilangan rumah, harta benda, bahkan orang-orang tercinta akibat bencana hidrometeorologi tersebut.

Di tengah kondisi sulit pascabencana, muncul kisah-kisah kemanusiaan yang mengharukan dan memberi harapan. Salah satunya datang dari Meunasah Geunteng, Kabupaten Pidie Jaya, melalui cerita seorang warga bernama Aisyah.

Baca Juga: Merokok Saat Berkendara Dinilai Berbahaya, Mahasiswa UMY Gugat UU LLAJ ke Mahkamah Konstitusi

Rumah Aisyah kini tertimbun lumpur hampir setengah bangunan setelah diterjang banjir bandang. Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram relawan @atika_cahyaa, terlihat sebuah kulkas yang sudah tak bisa digunakan lagi karena dipenuhi lumpur kering.

Di balik benda itu, tersimpan kisah sederhana namun menyentuh. Aisyah mengaku kulkas tersebut baru saja dibelinya untuk menyimpan susu bagi anak kucing yang baru lahir, setelah induknya mati.

“Dulu ada kucing yang baru melahirkan, mamaknya sudah mati. Harus kasih minum, kasih susu, tapi nggak ada tempat simpan. Jadi beli kulkas, tapi habis itu banjir,” ujar Aisyah dalam video yang diunggah pada Kamis, 22 Januari 2026.

Ia menuturkan, saat banjir datang pada malam hari, dirinya dan keluarga sama sekali tak sempat menyelamatkan barang-barang.

“Sebelum jam 12 malam sudah tidur. Tiba-tiba adik sepupu ketuk pintu, pas dibuka air sudah masuk. Nggak sempat ambil apa-apa,” katanya.

Aisyah hanya bisa menyelamatkan pakaian yang melekat di badan. Dalam kondisi panik dan ketakutan, ia bersama keluarga mengungsi ke meunasah dan masjid terdekat karena air terus naik.

Kini, rumahnya masih belum layak huni dan Aisyah harus tinggal di tenda pengungsian. Meski berada dalam keterbatasan, ia justru memilih untuk membantu sesama.

Sejak hari-hari pertama pascabanjir, Aisyah terlibat aktif memasak di dapur umum untuk para korban terdampak.

“Dari hari pertama sudah ikut masak, sudah hampir dua bulan. Kadang orang pulang bersih-bersih rumah, kami rasa iba kalau nggak ada yang masak,” ujarnya.

Baca Juga: Kerikil Penuhi Jalan Depan Sekolah, Keluhan Guru SMAN 2 Sangatta Utara Viral di Media Sosial

Dengan penuh keikhlasan, Aisyah menganggap semua cobaan sebagai bentuk kasih sayang Tuhan.

“Ikhlaskan saja, biar Allah yang balas. Kalau banyak ujian berarti disayang Allah. Alhamdulillah, kami senang dan berterima kasih atas bantuan yang meringankan beban kami,” tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X