Rumah Hancur, Bantuan Hilang: Kisah Pilu Warga Pidie Jaya Pascabanjir

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Selasa, 6 Januari 2026 | 08:02 WIB
Cerita warga Pidie Jaya, Aceh saat banjir bandang akhir November 2025 menerjang rumahnya.  (Dok. Instagram/rizkirinanda)
Cerita warga Pidie Jaya, Aceh saat banjir bandang akhir November 2025 menerjang rumahnya. (Dok. Instagram/rizkirinanda)

PONTIANAKGLOBE.COM, PIDIE JAYA -- Seorang warga Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, mengisahkan pengalaman pahit yang dialaminya bersama keluarga setelah banjir bandang dan tanah longsor menghancurkan rumah mereka pada akhir November 2025.

Ia bercerita, keluarganya baru bisa dievakuasi pada hari keempat setelah banjir mulai merendam permukiman. Proses evakuasi dilakukan oleh tim SAR bersama anggota kepolisian.

“Kami diambil sama tim SAR sama anggota polisi, dibawa ke rumah sakit dan dirawat 4 malam,” ujarnya, dikutip dari video yang diunggah akun Instagram @rizkirinanda pada Senin (5/1/2026).

Baca Juga: 40 Hari Pascabanjir, Warga Ketol Bertahan Hidup dengan Tali Sling

Masalah muncul ketika pihak rumah sakit menyatakan mereka sudah boleh pulang. Rumah yang seharusnya menjadi tempat kembali ternyata telah rusak parah akibat terjangan banjir.

“Dokter masuk, ibu udah boleh pulang. Saya jawab, ‘Bapak dokter, saya mau pulang ke mana?’ Akhirnya ada orang yang anaknya ada rumah di Dayah Paneuk,” tuturnya.

Ia dan keluarganya pun terpaksa menumpang sementara di rumah tersebut. Namun, ketenangan tak berlangsung lama. Pada malam kedua, banjir susulan kembali datang meski ketinggian air tidak separah sebelumnya.

“Datang kayu panjang, ada kira-kira 10 meter. Ada akar, ada dahannya hantam teras sampai miring,” lanjutnya.

Usai banjir susulan itu, tim kembali melakukan evakuasi dan membawa keluarganya ke posko pengungsian. Hingga kini, mereka masih bertahan di lokasi tersebut bersama penyintas lainnya.

“Besoknya kami dievakuasi sampai sekarang. Di sini ada 18 orang, apa yang ada makan gitu. Tapi saya nggak sempat lapar, makan orang sakit dan anak-anak dulu, kami nggak apa-apa,” kenangnya.

Kondisi semakin memprihatinkan ketika bantuan yang sebelumnya diterima dan disimpan di rumah justru raib. Ia menduga barang-barang tersebut diambil orang saat rumah dalam kondisi kosong dan tidak terkunci.

“Habis salat Ashar, saya pulang tengok rumah ibu. Saya kehilangan barang-barang, diambil orang. Apa yang dikasih orang, saya taruh di dalam rumah, nggak dikunci besoknya datang nggak ada lagi,” jelasnya.

Baca Juga: Istri Fiersa Besari Ditabrak di Stasiun Gambir, Ini Kronologi Lengkapnya

Musibah belum berhenti sampai di situ. Ketika banjir kembali datang, sisa barang yang masih ada ikut hanyut terbawa air.

“Begitu datang lagi, saya kunci pintu. Habis itu datang banjir lagi, hanyut semua, udah basah nggak diambil lagi. Pertama bantuan dicuri, yang kedua dihantam sama air banjir,” katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X