Sebulan Pascabanjir Aceh Timur, Warga Masih Bayar Mahal untuk Bersihkan Lumpur

photo author
- Minggu, 4 Januari 2026 | 17:14 WIB
Warga di Aceh Timur harus menggunakan alat berat untuk bersihkan lumpur yang mengendap di rumahnya.  (Dok. Instagram/bg_dosen)
Warga di Aceh Timur harus menggunakan alat berat untuk bersihkan lumpur yang mengendap di rumahnya. (Dok. Instagram/bg_dosen)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TIMUR -- Lebih dari satu bulan berlalu sejak banjir bandang melanda wilayah Sumatera, namun perjuangan para penyintas belum berakhir. Lumpur tebal yang terbawa arus banjir pada akhir November 2025 masih menimbun rumah-rumah warga, bahkan di sejumlah lokasi ketinggiannya sempat mencapai atap bangunan.

Sebagian warga terpaksa merelakan rumah mereka, sementara yang bertahan harus mengerahkan tenaga dan biaya besar untuk membersihkan sisa lumpur. Proses pemulihan tidak hanya menguras fisik, tetapi juga keuangan keluarga terdampak.

Baca Juga: John Herdman Resmi Tangani Timnas, PSSI Taruhan Besar Masa Depan Garuda

Seorang warga Aceh Timur menceritakan pengalamannya membersihkan lumpur di rumah dengan bantuan alat berat. Ia terpaksa menyewa beko karena endapan lumpur terlalu tinggi untuk dibersihkan secara manual.

“Sewa beko itu satu jam Rp600 ribu, jadi kita pakai uang pribadi. Pengerjaannya selama 2 jam, jadi kita habis Rp1,2 juta untuk mengeruk lumpur itu aja,” ucap warga tersebut dalam video yang diunggah akun Instagram @bg_dosen pada Sabtu, 3 Januari 2025.

“Nah, sekarang tinggal banjirnya aja. Kalau kita ke belakang rumah atau samping rumah, itu lumpurnya bisa sepinggang,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, keputusan menyewa beko diambil karena lumpur tidak mungkin dibersihkan hanya dengan peralatan sederhana.

“Kami sekeluarga terpaksa sewa beko karena nggak mungkin akan bersih pakai cangkul saja,” ujarnya.

“Uangnya pun didapat karena ada bantuan dari sanak family yang ada di luar,” imbuhnya.

Dalam video tersebut, kondisi perkampungan di Blang Gleum, Kecamatan Julok, Aceh Timur, masih tampak dipenuhi lumpur. Air sisa banjir juga masih menggenang di sejumlah titik, membuat lumpur tetap basah dan jalanan licin.

“Ini kondisi kampung kami setelah sebulan (banjir). Ada perubahan sedikit dari yang sebelumnya lumpur selutut sekarang sudah dikeruk pakai beko,” sambung warga itu.

Baca Juga: Isu Fufufafa hingga Ijazah SMA, Bab Baru Polemik Gibran

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, sekitar 8 ribu warga dari 22 kecamatan hingga kini masih bertahan di posko pengungsian. Pemkab mencatat sebanyak 5.171 unit rumah mengalami rusak berat, 5.294 unit rusak sedang, dan 1.426 unit rusak ringan akibat banjir bandang.

Pemerintah daerah juga menyatakan akan segera membangun hunian sementara bagi penyintas banjir, dengan target awal sekitar 1.000 unit rumah.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X