40 Hari Pascabanjir, Warga Ketol Bertahan Hidup dengan Tali Sling

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Selasa, 6 Januari 2026 | 07:57 WIB
Ayah dan anak menyeberangi sungai di Desa Burlah, Kecamatan Ketol dengan tali sling karena jembatan putus.  (Dok. Instagram/explore_gayo)
Ayah dan anak menyeberangi sungai di Desa Burlah, Kecamatan Ketol dengan tali sling karena jembatan putus. (Dok. Instagram/explore_gayo)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Sudah 40 hari berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun hingga kini, dampak bencana masih terasa kuat, terutama di sejumlah desa yang akses jalannya terputus total.

Di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, warga beberapa desa masih hidup dalam keterisolasian. Jalan utama belum bisa dilalui, membuat aktivitas harian nyaris lumpuh.

Baca Juga: Istri Fiersa Besari Ditabrak di Stasiun Gambir, Ini Kronologi Lengkapnya

Dalam kondisi itu, satu-satunya harapan warga untuk saling terhubung hanyalah tali sling yang direntangkan di atas sungai.

Sebuah video yang diunggah akun Instagram @explore_ketol memperlihatkan momen haru sekaligus menegangkan saat seorang ayah dan anak dari Desa Burlah berusaha menyeberangi sungai dengan berpegangan erat pada tali sling. Arus air di bawahnya terlihat deras, sementara penerangan sangat minim.

“Sebanyak sembilan desa masih terisolir, terputus dari akses utama, dan harus menjalani kehidupan dalam gelap gulita tanpa aliran listrik,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut pada Senin (5/1/2026). 

Dalam rekaman itu, cahaya hanya mengandalkan senter dan lampu ponsel untuk memastikan pijakan tetap aman.Tali sling yang digunakan berasal dari kabel listrik milik PLN dan dibuat secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Meski berisiko tinggi, tali sling tersebut menjadi satu-satunya sarana mobilitas warga, baik untuk menyeberang sungai maupun mengangkut hasil bumi. Durian, cabai, kopi, hingga beras harus melewati jalur berbahaya itu agar tetap bisa sampai ke pasar.

Bagi warga Desa Kekuyang, Burlah, Bintang Pepara, dan Buge Ara, tali sling itu kini menjadi urat nadi kehidupan. Ancaman jatuh dan hanyut ke sungai menjadi risiko yang terpaksa diterima demi bertahan hidup.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, sebelumnya menyatakan bahwa persoalan akses jalan di wilayah tersebut telah disampaikan kepada Presiden dan para menteri dalam rapat bersama. Pemerintah daerah berharap penanganan segera dilakukan agar isolasi warga tidak terus berlarut.

Selain akses jalan, bencana juga menghancurkan rumah-rumah warga. Setelah lebih dari sebulan bertahan di pengungsian, pemerintah setempat mulai menyiapkan pembangunan hunian sementara bagi korban banjir dan longsor.

Baca Juga: Tanpa Seragam, Anak-Anak Aceh Tamiang Tetap Kembali ke Sekolah

Data Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mencatat masih ada 128 kepala keluarga yang tinggal di pengungsian. Hunian sementara akan dibangun di tiga lokasi berbeda, masing-masing untuk warga Desa Serempah, Desa Burlah, dan Desa Bintang Pepara.

Huntara tersebut akan dibangun dalam bentuk blok, dengan satu blok terdiri dari lima unit hunian, sebagai langkah awal pemulihan kehidupan warga yang terdampak.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X