Ia menjelaskan, setelah kawasan permukiman dibersihkan, langkah berikutnya adalah mengeruk sedimentasi di sungai-sungai yang terdampak.
Menurutnya, tumpukan lumpur di sungai kecil hingga sungai besar seperti Sungai Tamiang telah menghambat aliran air ke laut.
“Setelah itu paralel sungai. Itu sungai-sungai kecil nanti masuk ke sungai Tamiang yang besar. Sungainya muaranya sudah seperti itu, tumpukan sedimen yang luar biasa banyak itu jadi memblok aliran dari sungai mau ke laut,” jelas Tito.
Baca Juga: Aceh Tengah Disebut Baik-baik Saja, Relawan Tunjukkan Takengon Masih Dikepung Longsor
Kondisi tersebut, lanjutnya, sangat berbahaya karena hujan dengan intensitas ringan sekalipun bisa menyebabkan air meluap dan memicu banjir baru.
“Akibatnya apa yang terjadi? Hujan dikit saja airnya tumpah ke kanan-kiri, menimbulkan banjir baru,” katanya.
Sebagai informasi, berdasarkan penetapan Muhammadiyah, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026. Artinya, masih ada waktu terbatas bagi pemerintah untuk memaksimalkan upaya pembersihan sebelum aktivitas masyarakat memasuki bulan puasa.***
Artikel Terkait
Bongkar Pola Lama APBD: Tito Desak Daerah Hentikan Rapat dan Dinas Tak Produktif
Tito Blak-blakan soal Banjir Sumatera: Semua Sudah All Out!
Tito Copot Sementara Bupati Aceh Selatan: Ketahuan ke Luar Negeri Tanpa Izin
Mendagri Tito: Jangan Salahkan Pemerintah Kalau Data Korban Bencana Belum Masuk
Fenomena Aneh Usai Banjir Nagan Raya: Gas Keluar dari Tanah, Api Bisa Membesar
Dua Hari Terendam, Banjir di Banjar Masih Bertahan