Curahan Hati Pak Reje Aceh Tengah Bikin Salim A Fillah Terpukul

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 8 Januari 2026 | 20:41 WIB
Menyoroti penuturan pendakwah Salim A Fillah terkait perjuangan warga yang terdampak bencana di Aceh Tengah. (Dok. Instagram.com/@salimafillah_official)
Menyoroti penuturan pendakwah Salim A Fillah terkait perjuangan warga yang terdampak bencana di Aceh Tengah. (Dok. Instagram.com/@salimafillah_official)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera sejak akhir November 2025 masih menyisakan dampak serius dan menyita perhatian publik.

Salah satu daerah yang terdampak cukup parah adalah Kabupaten Aceh Tengah, di mana kerusakan infrastruktur membuat pemulihan berjalan penuh tantangan.

Sejumlah akses jalan utama hingga kini belum dapat dilalui akibat jembatan yang putus dan ruas jalan yang tertimbun longsor. Kondisi tersebut membuat aktivitas warga terganggu dan distribusi kebutuhan dasar menjadi terhambat.

Baca Juga: Podcast Ahok–Denny Sumargo Hilang Mendadak, Bahasannya Bikin Panas?

Potret perjuangan warga Aceh Tengah pascabencana itu turut disorot pendakwah asal Yogyakarta, Salim A Fillah. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @salimfillah_official pada Minggu, 4 Januari 2026, Salim membagikan kisah percakapannya dengan seorang kepala desa di Aceh Tengah.

“Patah hati terbesar kami ketika mendengar cerita dari Pak Reje,” tulis Salim.

Ia menjelaskan bahwa hingga kini akses darat di beberapa wilayah masih terputus akibat kerusakan jembatan dan longsor yang belum tertangani sepenuhnya.

“Inilah yang menyebabkan kami fokus pada perbaikan akses, karena masalah ini vital,” tegasnya.

“Jika akses terputus, maka ekonomi tidak bisa berputar. Masyarakat tidak bisa jual beli,” imbuh Salim.

Dalam video tersebut, kepala desa yang akrab disapa Pak Reje mengungkapkan keluh kesah warganya yang terisolasi akibat akses jalan yang belum pulih.

Ia menegaskan bahwa masyarakat di desanya bukan bergantung pada bantuan, melainkan terpaksa meminta uluran tangan karena kondisi yang tak memungkinkan.

“Kalau seandainya pak, akses jalan kami bisa lewat, kami tidak perlu bantuan pak,” ucap sang kepala desa.

“Kami bukan orang malas di sini, kami orang petani pak, kami tahu diri,” tegasnya.

Ia juga menceritakan dampak bencana terhadap kehidupan anak-anak di desanya. Ketiadaan listrik dan fasilitas membuat aktivitas belajar dan mengaji terganggu selama berbulan-bulan.

“Kami cuman butuh makan pak, dan anak-anak kami sekarang ini juga sudah berapa bulan ini?” tanya sang kepala desa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X