Evakuasi Terhambat Hujan, 18 Warga Masih Hilang

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Jumat, 21 November 2025 | 16:58 WIB
Menyoroti fakta terkini terkait insiden longsor yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.  (Dok. X.com/@KemenPU)
Menyoroti fakta terkini terkait insiden longsor yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. (Dok. X.com/@KemenPU)

PONTIANAKGLOBE.COM, BANJARNEGARA -- Publik Tanah Air tengah menyoroti insiden longsor yang menimpa Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Kamis, (20/11/2025). Kekuatan longsor tersebut menyapu pemukiman warga dan menimbulkan kerusakan besar. Hingga Jumat, (21/11/2025) pukul 09.00 WIB, korban meninggal dunia tercatat 10 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan perkembangan terbaru proses pencarian. Ia menjelaskan bahwa situasi di lapangan masih tidak stabil dan hilangnya beberapa warga belum dapat dipastikan. Menurut catatan tim penyelamat, sebanyak 18 warga masih diduga hilang.

“Atas penemuan ini, jumlah korban meninggal dunia menjadi 10 orang, sementara 18 orang masih dalam pencarian,” kata Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Jumat, 21 November 2025.

Baca Juga: KUHAP Baru Dianggap Berisiko Membuka Ruang Penyalahgunaan

Keluarga korban tampak diliputi kecemasan karena pencarian dilakukan di tiga sektor berbeda. Kerusakan di desa itu juga cukup luas, puluhan rumah hancur dan ratusan lainnya terdampak.

Ribuan warga harus mengungsi ke beberapa titik penampungan yang disiapkan pemerintah daerah. Suasana posko dipenuhi rasa takut dan trauma, terutama dari mereka yang menyaksikan langsung terjangan tanah dari lereng yang jebol.

Data awal menunjukkan, hingga Kamis malam, bencana ini menyebabkan 7 warga terluka, 48 rumah hilang atau roboh, 195 rumah terdampak, dan total pengungsi mencapai 934 jiwa.

Operasi pencarian masih berlangsung dengan dukungan sekitar 700 personel gabungan, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, hingga unsur pendukung lain.

Pencarian memanfaatkan alat berat, anjing pelacak, dan alkon. Abdul Muhari mengungkap bahwa kondisi lapangan sangat menantang akibat medan yang labil dan hujan intens.

“Ada potensi longsor susulan akibat hujan, kubangan air di area longsoran, serta aliran mata air yang terus mengalir, sehingga memperlambat proses evakuasi,” ujarnya.

Untuk mengurangi risiko, tim menjalankan operasi modifikasi cuaca sekaligus membuka jalur aliran air agar area longsoran tidak semakin jenuh. Sebanyak 12 excavator dan 12 alkon dikerahkan untuk mempercepat pembersihan material.

Kerusakan longsor meluas hingga permukiman yang berjarak ratusan meter dari titik lereng yang amblas. Sejumlah rumah tertimbun lumpur tebal. Para penyintas menggambarkan bagaimana mereka harus berlari tanpa sempat menyelamatkan barang apa pun. Abdul Muhari kembali menegaskan bahwa cuaca buruk membuat kondisi terus berubah.

“Untuk mengurangi risiko, BNPB bersama lintas instansi melakukan operasi modifikasi cuaca serta menyiapkan aliran agar air dapat mengalir langsung ke sungai,” jelasnya.

Baca Juga: PSSI Serahkan Masa Depan Timnas U-20 ke Nova Arianto

Di tengah upaya pencarian, kisah para korban selamat menunjukkan bagaimana bencana terjadi tiba-tiba. Suara gemuruh besar menjadi tanda pertama bagi warga. Sumarti, salah satu penyintas, mengingat kejadian itu dengan mata berkaca-kaca.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X