Pemetaan Retakan Terlambat? Ancaman Longsor Susulan Masih Bayangi Warga

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Senin, 17 November 2025 | 16:01 WIB
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti ungkap trauma siswa SMAN 72 Jakarta masih membekas hingga belum berani kembali ke sekolah.  (Dok. YouTube.com / Sekretariat Kabinet)
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti ungkap trauma siswa SMAN 72 Jakarta masih membekas hingga belum berani kembali ke sekolah. (Dok. YouTube.com / Sekretariat Kabinet)

PONTIANAKGLOBE.COM, CILACAP -- Proses pencarian warga yang masih hilang akibat longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Cilacap, terus dilakukan oleh tim gabungan. Di saat yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama BNPB mulai menyiapkan relokasi bagi para penyintas yang kehilangan rumah.

Warga yang terdampak akan dipindahkan sementara ke hunian sementara atau huntara sambil menunggu pembangunan hunian tetap.

Baca Juga: RI Punya Kapal Selam Tanpa Awak! Ini Perbandingannya dengan AS, Rusia, China

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta Pemkab Cilacap menyiapkan lahan seluas 3,5 hektare untuk menjadi lokasi relokasi.

Langkah itu diambil untuk menjamin keselamatan warga karena sejumlah titik di sekitar lokasi masih menunjukkan retakan yang berpotensi memicu longsor lanjutan.

“Kami sudah koordinasi dengan Bupati Cilacap untuk menyiapkan lahan 3,5 hektare. Nanti disiapkan rumah biar aman, karena masih ada retakan,” ujar Luthfi saat meninjau lokasi longsor pada Minggu, (16/10/2025). 

Ia memastikan kebutuhan dasar warga, seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, hingga pendampingan trauma, tetap terpenuhi. Sejumlah pos kebencanaan, dapur umum, dan fasilitas kesehatan telah beroperasi untuk membantu para pengungsi maupun tim SAR.

“Trauma healing juga dilakukan. Layanan kesehatan dan pendidikan harus jalan,” tambahnya.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menjelaskan bahwa relokasi dilakukan melalui kerja sama antara pemda dan BNPB. Pemda menyediakan lahan, sementara BNPB membangun hunian sementara yang dapat ditempati hingga dua tahun.

“Hunian sementara itu bisa dipakai tinggal kurang lebih selama dua tahun. Tahun pertama Pemkab bisa mengajukan hunian tetap ke BNPB. Huniannya besar dan sangat manusiawi,” kata Bergas.

Upaya pencarian korban terus berjalan. Hingga pencarian hari keempat pada Minggu, sebanyak 22 alat berat dan 1.001 personel gabungan diterjunkan.

Baca Juga: Sorotan Tajam ke Dunia Pendidikan: Bullying Didiamkan, Nyawa Melayang?

Enam ambulans disiagakan untuk membawa jenazah ke RSUD Majenang dan rumah duka. Selain itu, sembilan anjing pelacak digunakan untuk menemukan 12 korban yang masih belum ditemukan.

Operasi hari keempat dihentikan pukul 17.00 WIB dengan tambahan dua korban ditemukan dalam kondisi meninggal. Total korban yang berhasil ditemukan menjadi 13 orang, sementara 10 lainnya masih hilang. Pencarian dilanjutkan kembali pada Senin pagi.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X