PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana membeberkan data terbaru terkait kasus keracunan pangan di Indonesia saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (12/11/2025).
Dalam paparannya, Dadan menyebut terdapat 441 kasus keracunan pangan yang tercatat di Indonesia, di mana hampir separuhnya berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Program MBG menyumbang 211 kejadian atau sekitar 48 persen dari total kasus keracunan pangan yang ada di Indonesia,” kata Dadan di hadapan anggota dewan.
Baca Juga: Aturan Baru OJK: Rekening Tak Aktif 5 Tahun Akan Diblokir Sementara, Begini Cara Mengaktifkannya
Ia juga menjelaskan adanya perbedaan data antara BGN dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Berdasarkan catatan BGN, penerima manfaat yang sempat dirawat inap berjumlah 636 orang, sementara data Kemenkes mencatat 638 orang.
Perbedaan serupa juga terjadi pada jumlah rawat jalan, yakni 11.004 versi BGN dan 12.755 versi Kemenkes.
“Kalau mengacu pada data Kemenkes, total ada 13.371 penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan akibat program MBG. Data ini akan kami sinkronkan,” ujar Dadan.
Sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025, program MBG disebut telah memproduksi lebih dari 1,8 miliar porsi makanan. Namun, BGN kini memperketat standar kebersihan dan bahan baku makanan setelah ditemukannya sejumlah kasus keracunan.
“Dari hasil kajian Kemenkes, sekitar 50 persen kasus keracunan pangan di Indonesia disebabkan oleh cemaran E.coli yang bersumber dari air. Karena itu, seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini wajib menggunakan air tersertifikasi untuk memasak,” jelas Dadan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menyoroti sejumlah kasus keracunan terkait MBG. Ia mengakui masih ada kekurangan dalam pelaksanaannya, namun menilai hal tersebut masih dalam batas wajar mengingat skala program yang masif.
“Ada beberapa ribu yang sakit perut, tetapi jika dibandingkan 8 ribu dari 1 miliar porsi, itu masih dalam koridor kesalahan manusiawi, sekitar 0,0007 persen. Artinya, 99,9 persen berjalan baik,” ujar Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, 20 Oktober 2025.
Baca Juga: Jangan Tertipu! Kabar BSU Cair November 2025 Ternyata Hoaks, Cek Faktanya di Sini
Prabowo juga menegaskan pentingnya evaluasi agar pelaksanaan program MBG semakin ketat dan bebas dari kesalahan. Ia menambahkan bahwa keberhasilan MBG turut menjadi perhatian dunia.
“Presiden Brasil bahkan memberi tahu saya, mereka butuh 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat, sementara Indonesia bisa mencapai 36 juta dalam satu tahun,” ujarnya.***
Artikel Terkait
1,4 Miliar Porsi dalam Setahun, Prabowo Pamer MBG Jadi Kebanggaan Dunia
MBG Curi Perhatian di PBB Jenewa, Indonesia Tampilkan Model Pembangunan Inklusif yang Dilirik Dunia
Janji Insentif Rp5 Juta untuk SPPG Bikin Konten Positif MBG Ternyata Candaan, Ini Klarifikasi BGN
Pemerintah DIY Didesak Audit Total Program MBG Usai Ratusan Siswa Tumbang
MBG Prabowo Ternyata Bukan Gagasan Baru? Hasan Nasbi Sebut Sudah Ada di Zaman Soeharto
Zulhas Sebut Rata-rata IQ Indonesia Cuma 78, Klaim MBG Bisa Naikkan Jadi 120