Analogi Cerita Tiongkok Merak dan Pemasar

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Senin, 3 November 2025 | 09:57 WIB
Rekomendasi Buku Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran (J. Paul Peter dan Jerry C.Olson )
Rekomendasi Buku Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran (J. Paul Peter dan Jerry C.Olson )

PONTIANAKGLOBE.COM | Cerita dari negri Tiongkok mengisahkan di sebuah hutan yang hijau dan damai, hidup seekor burung merak yang dikenal karena keindahan bulunya. Ketika ia membuka ekornya, seolah-olah langit menyebarkan kain sutra bercorak permata.

Semua burung memandangnya dengan kekaguman, sebagian dengan rasa iri, sebagian dengan rasa hormat. Lama-kelamaan, sang merak pun percaya bahwa ia memang diciptakan hanya untuk dikagumi. Ia tidak perlu berlatih terbang. Ia tidak perlu belajar mencari makanan. Ia tidak perlu memikirkan apa pun selain merawat bulu dan menikmati decak kagum dunia.

Ketika burung-burung lain belajar sejak pagi hari—berlatih mengepakkan sayap, memahami arah angin, mencari biji-bijian—sang merak memilih berjalan pelan di tanah, sesekali berhenti di tepi air hanya untuk menyisir bulu-bulunya.

Ia hidup bukan untuk bertahan, tetapi untuk dipuji. Burung-burung tua di hutan menasihatinya, keindahan tidak cukup untuk menghadapi hidup. Dunia berubah, musim berganti, bahaya datang tiba-datang.

Tetapi merak menganggap nasihat itu hanya kecemburuan yang dibungkus kebijaksanaan. Baginya, selama keindahan masih memukau mata, semuanya aman.

Namun suatu hari, hujan turun deras. Angin membawa dingin dan air menghantam bumi.

Burung-burung lain terbang cepat mencari tempat bernaung. Mereka yang terlatih dan tangkas naik ke dahan tinggi, berlindung di sela-sela rimbun daun.

Sang merak mencoba berlari, tetapi ekornya yang panjang dan indah menyerap air, menjadi berat, dan membuatnya sulit bergerak. Ia kehilangan kecepatan, lalu kehilangan daya terbang. Di tengah kepanikan hujan, tiba-tiba sekelompok pemburu lewat.

Sang merak ditangkap dengan mudah. Ia tidak kalah karena buruk rupa, tetapi karena malas belajar. Sejak itu, si burung merak kehilangan kebebasannya dan menjadi hewan peliharaan orang.

Samuel
Samuel (Dosen)

Dongeng Tiongkok kuno itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan cermin bagi dunia ekonomi dan pemasaran hari ini.

Tidak sedikit perusahaan, merek, bahkan pemasar, hidup seperti sang merak. Mereka pernah memiliki keunggulan—keindahan desain, popularitas merek, dominasi pasar, atau kejayaan masa lalu—lalu percaya bahwa keunggulan itu kekal. Mereka lupa belajar, lupa berubah, lupa berpikir.

Dalam buku Consumer Behavior & Marketing Strategy karya J. Paul Peter dan Jerry C. Olson, terdapat satu konsep penting bernama pembelajaran kognitif (cognitive learning), sebuah proses di mana seseorang, atau organisasi, tidak hanya menerima informasi, tetapi mengolahnya, menghubungkannya, mengingatnya, dan menggunakannya untuk membuat keputusan baru.

Pembelajaran kognitif menuntut kesadaran, perhatian, dan kemampuan memaknai lingkungan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Sumber: Samuel

Tags

Rekomendasi

Terkini

X