money-moves

Smelter Belum Ngebut, Laba Amman Mineral (AMMN) Anjlok Tajam, Rugi USD175 Juta di 2025!

Kamis, 30 Oktober 2025 | 13:43 WIB
Beginilah aktivitas penambangan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (Dok. AMMN)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melaporkan penurunan tajam kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Penjualan bersih anjlok hingga 78 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, seiring belum optimalnya operasi smelter tembaga di Gresik dan peralihan penjualan konsentrat ke pasar domestik.

Baca Juga: Siapa Sangka! Tarik Tambang Ternyata Bukan Permainan Asli Indonesia

Sepanjang Januari–September 2025, Amman Mineral membukukan penjualan bersih USD545,3 juta, turun drastis dibanding USD2,49 miliar pada periode sama 2024.

EBITDA merosot 81 persen menjadi USD279 juta, sedangkan perusahaan mencatat rugi bersih USD175 juta, berbalik dari laba USD720 juta tahun sebelumnya.

Penurunan ini dipicu oleh proyek hilirisasi yang masih dalam fase ramp-up serta kenaikan beban keuangan akibat tambahan pendanaan jangka panjang.

Smelter dan fasilitas pemurnian logam mulia (PMR) Amman baru mulai berproduksi pertengahan tahun.

Total aset perusahaan mencapai USD12,81 miliar atau naik 15 persen dibanding akhir 2024, sementara kas turun tipis menjadi USD676 juta.

Ekuitas tercatat USD5 miliar, dan liabilitas naik menjadi USD7,81 miliar akibat peningkatan utang proyek hilirisasi.

Baca Juga: Empat Tambang Nikel di Raja Ampat Dicabut, Pemerintah Tegakkan Perpres 2025

Dari sisi arus kas, perusahaan mencatat arus kas operasi negatif USD888 juta karena menurunnya penerimaan pelanggan, serta arus kas investasi negatif USD1,06 miliar untuk pembangunan smelter dan pabrik konsentrator.

Namun, arus kas pendanaan positif USD1,89 miliar menunjukkan adanya penarikan pinjaman baru. AMMN juga membeli kembali saham treasuri senilai USD48,4 juta.

Fokus Stabilkan Produksi

Presiden Direktur AMMN Arief Sidarto mengatakan, perusahaan fokus menstabilkan operasi smelter agar bisa mencapai kapasitas penuh.

“Kami masih berada dalam fase ramp-up. Prioritas kami adalah menstabilkan seluruh lini produksi sebelum mencapai kapasitas penuh. Setelah itu, kami berharap fasilitas dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan,” ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini