Kami mencintai tanah ini.
Kami mencintai hutan ini.
Kami mencintai sungai ini.
Dan kami mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jangan kriminalkan kami hanya karena kami hidup dengan cara yang diwariskan leluhur, selama praktik itu dijalankan dengan tanggung jawab, kehati-hatian, dan tidak menimbulkan kerusakan.
Sebaliknya, mari kita bersama-sama memperbaiki praktik yang berisiko, memperkuat pengendalian api, dan menyesuaikan kearifan lokal dengan tantangan perubahan iklim.
Karena kearifan lokal tidak boleh dibekukan oleh zaman. Ia harus dirawat, dikaji, dan dikembangkan agar tetap mampu menjaga manusia dan alam.
Pesan dari Tepi Sungai Kapuas
Di Kalimantan, kita belajar dari sungai.
Air mengalir tanpa bertanya siapa yang tinggal di tepinya.
Hutan menaungi tanpa memilih siapa yang berteduh.
Tanah memberi kehidupan tanpa membedakan siapa yang mengolahnya.
Maka manusia pun harus belajar dari alam:
mengambil secukupnya, menjaga seperlunya, dan mewariskan sebaik-baiknya.
Kalau hari ini kabut menutup pandangan, jangan biarkan kabut itu juga menutup akal sehat kita.
Artikel Terkait
Kabut Asap Karhutla Selimuti Banjarbaru, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya
Remaja Palangka Raya Viral Padamkan Karhutla Pakai Kostum Superman, Dapat Apresiasi Menhut
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Berdampak ke Malaysia, 108 Sekolah di Sarawak Ditutup
Kabut Asap Karhutla Kepung Kalimantan, Pengendara Saling Adu Klakson
Mencabut Perda Karhutla: Sesat Data dan Cacat Hukum
AMAN Kalbar Minta Penanganan Karhutla Tetap Hormati Hak Masyarakat Adat