Karena itu, saya tidak melihat creator sebagai musuh wartawan. Saya juga tidak melihat media sosial sebagai musuh perusahaan pers.
Yang harus berubah adalah cara kita melihat industri ini.
Wartawan masa depan mungkin tidak cukup hanya pandai menulis. Ia harus mampu membuat video, berbicara di depan kamera, memahami algoritma, membangun komunitas, dan memiliki audiensnya sendiri.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang: disiplin jurnalistik.
Sebaliknya, perusahaan pers juga tidak bisa selamanya menggantungkan hidup pada traffic website dan banner advertising.
Perusahaan pers harus mulai membangun ekosistem: publisher, creator, video, podcast, komunitas, event, media sosial, live commerce, creative services, data, hingga berbagai model transaksi baru.
Bukan berarti pers berubah menjadi sekadar pedagang.
Justru bisnis yang sehat diperlukan agar redaksi tidak selalu hidup dalam ketergantungan.
Kita juga harus berhenti menganggap bisnis sebagai kata kotor dalam dunia pers. Media yang tidak memiliki bisnis yang sehat justru lebih mudah kehilangan independensinya.
Ketika pendapatan tidak cukup, selalu ada risiko bergantung kepada pemilik modal, pemerintah, pengiklan, kepentingan politik, atau siapa pun yang bersedia membiayainya.
Karena itu, idealisme dan bisnis seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua musuh yang saling berhadapan.
Idealisme menghasilkan sesuatu yang sangat mahal dalam industri media: kepercayaan.
Kepercayaan melahirkan audiens. Audiens melahirkan pengaruh. Dan pengaruh sebenarnya mempunyai nilai ekonomi.
Masalahnya, banyak media belum berhasil mengubah rantai tersebut menjadi model bisnis yang sehat.
Jadi, mungkin yang gagal bukan idealismenya.
Artikel Terkait
Ayah Kandung Jadi Tersangka, Begini Sikap MRP Sebelum Kasus Kematian Julia Terungkap
Kebakaran Pasar Sungai Duri Hanguskan 50 Ruko, Kerugian Capai Rp70 Miliar
Pengunjung Taman Safari Nekat Buka Kaca Mobil di Area Harimau, Tuai Kecaman
Ketua Panitia: Pelantikan Pengurus Inkai Kota Pontianak Jadi Momentum Perkuat Organisasi dan Prestasi
KAMMI Tolak Rencana Aksi AMPB di DPR pada 27 Agustus
Bang Japar Tegaskan Komitmen Jaga Jakarta, Ajak Warga Hindari Provokasi