Idealisme Saja Tak Cukup, Pers Juga Butuh Bisnis yang Sehat

photo author
Patrisia Yosi, Pontianak Globe
- Senin, 24 Agustus 2026 | 08:05 WIB
Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji
Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Ada satu kenyataan yang mungkin tidak nyaman dibicarakan di kalangan pers: idealisme itu penting, tetapi idealisme saja tidak cukup untuk membayar gaji.

Kalimat ini mungkin terdengar pragmatis, bahkan bisa dianggap terlalu berorientasi bisnis. Namun, justru karena saya percaya pada jurnalisme, persoalan ini perlu dibicarakan secara terbuka.

Baca Juga: Bocah 7 Tahun di Dairi Diduga Dianiaya Bibi, Tubuh Penuh Luka

Wartawan harus digaji. Editor harus digaji. Kantor, teknologi, server, liputan, perjalanan, dan berbagai kebutuhan operasional membutuhkan biaya. Pers membutuhkan idealisme agar tetap dipercaya. Namun, perusahaan pers membutuhkan bisnis yang sehat agar tetap hidup.

Persoalannya, lanskap bisnis media berubah sangat cepat.

Dulu, ketika masyarakat membutuhkan informasi, media menjadi tujuan utama. Ketika perusahaan ingin menjangkau publik, media menjadi salah satu pintu penting. Audiens berkumpul di media, sehingga iklan pun mengalir ke sana.

Hari ini situasinya berbeda.

Perhatian publik tersebar ke berbagai platform. Ada TikTok, Instagram, YouTube, podcast, influencer, KOL, content creator, streamer, akun komunitas, hingga berbagai platform baru yang terus bermunculan.

Semuanya memperebutkan satu komoditas yang sama: perhatian manusia atau attention.

Ke mana perhatian pergi, uang biasanya mengikuti.

Anggaran komunikasi perusahaan yang dahulu banyak mengalir ke media kini harus berbagi dengan influencer, KOL, creator, digital agency, platform media sosial, marketplace hingga live commerce.

Kue ekonominya tidak hilang. Kuenya hanya berpindah meja.

Baca Juga: KPK Tegaskan Mahasiswa Jalur Mandiri Unsoed Tetap Bisa Kuliah

Ironisnya, ketika ekosistem media semakin besar, banyak perusahaan pers justru semakin kecil. Redaksi yang dahulu berisi ratusan orang menyusut menjadi puluhan. Bahkan, semakin banyak media yang bertahan dengan hanya tiga hingga lima orang.

Bukan karena mereka tiba-tiba kehilangan idealisme. Sering kali persoalannya sederhana: pendapatan tidak lagi sanggup menopang struktur biaya lama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Patrisia Yosi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KAMMI Tolak Rencana Aksi AMPB di DPR pada 27 Agustus

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:30 WIB

MBG Perlu Evaluasi Model, Bukan Sekadar Dapur

Jumat, 21 Agustus 2026 | 23:05 WIB
X