Wacana Soeharto Jadi Pahlawan Muncul Lagi, Hasan Nasbi Ungkap Alasannya

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Sabtu, 1 November 2025 | 14:51 WIB
Mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi sebut Soeharto layak diberi gelar pahlawan nasional.  (Dok. YouTube/Hasan Nasbi)
Mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi sebut Soeharto layak diberi gelar pahlawan nasional. (Dok. YouTube/Hasan Nasbi)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menyebut Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, layak mendapat gelar pahlawan nasional.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam tayangan YouTube pribadinya yang diunggah pada Jumat, (31/10/2025). 

Baca Juga: MBG Prabowo Ternyata Bukan Gagasan Baru? Hasan Nasbi Sebut Sudah Ada di Zaman Soeharto

Hasan menilai, selama 32 tahun masa kepemimpinan Soeharto, banyak hal yang telah dilakukan untuk kemajuan bangsa, meskipun tidak lepas dari kesalahan.

“Menurut saya Pak Harto layak untuk jadi pahlawan, dia presiden 32 tahun, dia jadi presiden banyak hal yang dia bikin, bukan berarti dia tanpa kesalahan,” ujar Hasan.

Hasan menekankan, setiap pemimpin pasti memiliki kekurangan dan tidak bisa dihakimi hanya dari sisi kesalahannya saja.

“Tapi presiden sebelumnya juga berkuasa juga banyak kesalahan,” lanjutnya.

Menurutnya, penilaian terhadap sosok yang diusulkan menjadi pahlawan nasional seharusnya dilakukan secara adil dengan mempertimbangkan kontribusi dan jasa yang telah diberikan kepada bangsa.

“Kalau mau menilai seseorang mau jadi pahlawan atau enggak, itu bukan berarti dia tanpa cela, bukan berarti dia tanpa kesalahan, tapi kasih timbangan yang adil,” tegas Hasan.

Hasan juga menyinggung pentingnya objektivitas dalam proses penetapan gelar pahlawan nasional oleh pemerintah.

“Biar bandul itu bisa bergerak. Kalau cuman satu subjektivitasnya cuman satu, itu bukan timbangan namanya,” imbuhnya.

Pria bernama lengkap Hasan Nasbi Batupahat itu berharap proses evaluasi dilakukan dengan pertimbangan yang seimbang dan tidak didasarkan pada pandangan politik semata.

“Pemerintah dalam mengevaluasi siapa saja nama-nama yang harus menjadi pahlawan tentu timbangannya harus adil,” ucap Hasan.

Hasan pun menutup pernyataannya dengan ajakan agar publik melihat jasa seorang tokoh secara lebih utuh.

“Lebih banyak jasanya atau lebih banyak dosanya,” pungkasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X