Kebaya Menari dari Jakarta ke Vatikan, Perempuan Lintas Iman Ini Akan Tampil di Depan Paus Fransiskus

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 13:08 WIB
Para penari Komunitas Kebaya Menari melakukan latihan terakhir di Grha Besuki 8, Menteng, Jakarta, Jumat (17/10/2025), sebelum tampil di Vatikan. Komunitas ini terdiri dari perempuan lintas iman yang mempromosikan kebaya melalui seni tari. (Dok. Pontianak Globe)
Para penari Komunitas Kebaya Menari melakukan latihan terakhir di Grha Besuki 8, Menteng, Jakarta, Jumat (17/10/2025), sebelum tampil di Vatikan. Komunitas ini terdiri dari perempuan lintas iman yang mempromosikan kebaya melalui seni tari. (Dok. Pontianak Globe)

“Semua peserta punya pekerjaan tetap, jadi latihan dilakukan malam hari atau setelah pulang kantor. Kami bukan penari profesional, tapi punya semangat yang sama: ingin mempromosikan kebaya Indonesia dan menari di hadapan Paus,” ujarnya.

Baca Juga: Paus Fransiskus Wafat, Dunia Kenang Jam Tangan Murah Kesayangannya

Momen tampil di Vatikan menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi seluruh anggota komunitas.

Yanti mengaku deg-degan menghadapi kesempatan langka itu.

“Saya saja yang muslim rasanya bergetar, apalagi teman-teman yang Katolik. Menari di depan Bapa Paus itu kesempatan seumur hidup,” tuturnya dengan senyum haru.

Tentang Komunitas Kebaya Menari

Komunitas Kebaya Menari berdiri pada 4 Desember 2019, didirikan oleh empat sahabat: Yanti Moeljono, Ade Nirmala, Berty Singgih, dan Dian Chieq.

Tujuannya sederhana: menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kebaya dengan cara yang menyenangkan — menari.

“Kami memilih menari karena membuat kebaya terlihat hidup dan dinamis. Dari situ orang jadi penasaran dan mau belajar tentang kebaya dan budaya Indonesia,” kata Yanti.

Menariknya, latihan pertama mereka pada 4 Desember 2019 di Sarinah bertepatan dengan tanggal penetapan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Baca Juga: Kesederhanaan Mendiang Paus Fransiskus Terpancar dari Jam Tangan Seharga Rp800 Ribuan

Kini, komunitas tersebut rutin menggelar kelas menari berkebaya secara gratis dan terbuka untuk lintas usia serta lintas iman.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kebaya milik semua perempuan Indonesia, dari mana pun latar belakangnya. Seperti kimono di Jepang, hanbok di Korea, atau sari di India — kebaya harus dihidupkan kembali di negeri sendiri,” tegas Yanti.

Dalam usianya yang hampir lima tahun, Komunitas Kebaya Menari telah tampil di berbagai ajang nasional dan internasional, dengan semangat memperkenalkan budaya Indonesia melalui gerak, warna, dan harmoni.

Kini, langkah kaki mereka akan menapak ke jantung dunia Katolik, Vatikan — membawa pesan persahabatan, keberagaman, dan keindahan budaya Nusantara di hadapan Paus Fransiskus.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X