Tragedi Timothy Anugerah, Luka di Balik Dunia Kampus yang Masih Buta Hati

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 16:47 WIB
Menyoroti skandal perundungan yang membayangi kasus kematian Timothy Anugerah di kampus Udayana.  (Dok. X.com/@Meta80ki)
Menyoroti skandal perundungan yang membayangi kasus kematian Timothy Anugerah di kampus Udayana. (Dok. X.com/@Meta80ki)

Dalam bukunya “Should Bullying Be a Crime?” (2020), peneliti sosial Emma Jones menulis “Bullying bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan kekerasan psikososial yang dapat mengikis martabat, menghancurkan kepercayaan diri, dan bahkan merenggut nyawa.”

Pemikiran itu sejalan dengan refleksi Matthew Sharpe dalam “Stoicism, Bullying, and Beyond” (2022), yang menegaskan bahwa penyikapan atas perundungan tak cukup berhenti di penegakan hukum.

“Jika hukum berperan menegakkan keadilan dari luar, maka Stoisisme menawarkan kekuatan dari dalam,” tulisnya.

Kampus semestinya menjadi ruang tumbuh yang aman, bukan ladang kekuasaan kecil yang menormalisasi tekanan sosial. Kasus Timothy adalah pengingat keras bahwa pendidikan tanpa kemanusiaan hanya melahirkan hierarki baru yang membungkam nurani. Dalam duka ini, publik menuntut perubahan budaya akademik yang lebih beradab, lebih empatik, dan lebih berpihak pada korban.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X