PONTIANAKGLOBE -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) berharap produksi sawit nasional tidak turun agar mengisi kebutuhan domestik dan ekspor terpenuhi dengan menjalankan program peremajaan sawit rakyat.
BACA JUGA: Wamendag Jerry Sambuaga Yakin Kripto Alat Investasi Kaum Milenial Indonesia
Ketua Umum Gapki, Edi Martono mengatakan industri sawit tanah air telah menjadi komoditi andalan pemerintah, pada 2022 pangsa produksinya mencapai 55 persen, pangsa ekspor 50 persen sehingga sawit Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dunia sangat penting.
BACA JUGA: Asyik Kabar Gembira, Wasit Liga 1 dan 2 Dapat BPJS Ketenagakerjaan
"Percepatan realisasi peremajaan sawit rakyat dapat memenuhi kebutuhan pangan dan energi dan kesejahteraan masyarakat global," kata Edi Martono dilansir dari laman Gapki dikutip Pontianak Globe, Jumat (14 April 2023).
Dia mengatakan Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia sekaligus konsumen terbesar di dunia yang mencapai 11 persen.
"Sehingga peran industri sawit Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dunia penting dan kebutuhan dalam negeri," kata Edi Martono.
Di sisi lain Wakil Presiden (Wapres) RI Ma'ruf Amin berharap tidak ada persoalan status perkebunan di kawasan hutan sehingga mendukung percepatan program peremajaan sawit rakyat.
Apalagi, menurutnya, Indonesia harus mampu membuktikan perkebunan kelapa sawit Indonesia di tingkat global memenuhi tata kelola berkelanjutan.
"Sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) menaikan daya saing sekaligus memperkuat upaya mengakselerasi penurunan emisi karbon dari industri kelapa sawit Indonesia," kata Ma'ruf.
Dia mengatakan industri kelapa sawit mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29,5 juta ton setara CO2 pada 2022 yang berarti kontribusi kelapa sawit nasional mampu mengendalikan perubahan iklim.