bisnis-market

Danantara Gandeng Chandra Asri dan INA Bangun Pabrik Kimia Rp13 Triliun, Masuk PSN Dorong Ekonomi Tumbuh 8% per Tahun

Rabu, 18 Juni 2025 | 12:19 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto saat hadiri acara Town Hall Danantara Indonesia 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Senin 28 April 2025. (Setpres)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), lembaga investasi negara yang dibentuk lewat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025, langsung bergerak cepat.

Danantara baru saja meneken nota kesepahaman (MoU) dengan PT Chandra Asri Pacific Tbk dan Indonesia Investment Authority (INA) untuk pembangunan pabrik kimia Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai Rp13 triliun. Penandatanganan dilakukan pada Senin, 16 Juni 2025.

Baca Juga: Korporasi Wilmar Didakwa Korupsi CPO, Kejagung Sita Rp11,8 Triliun

Langkah ini menjadi gebrakan perdana Danantara dalam menjalankan mandat pengelolaan dan optimalisasi aset strategis negara serta BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pabrik tersebut akan dibangun dan dioperasikan oleh anak usaha Chandra Asri, PT Chandra Asri Alkali (CAA).

Pada tahap awal, pabrik akan memiliki kapasitas produksi 400.000 ton soda kaustik padat per tahun dan 500.000 ton ethylene dichloride.

Kedua bahan kimia tersebut merupakan komponen vital untuk berbagai industri, mulai dari pengolahan air, sabun dan deterjen, pemurnian alumina, hingga pemrosesan nikel.

Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Meletus Dahsyat, Kolom Abu Capai 10.000 Meter

Dorong Kemandirian Industri

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan investasi ini akan memperkuat kemandirian bangsa di sektor industri kimia.

"Investasi ini memperkuat ketahanan nasional dengan mengurangi ketergantungan impor atas produk penting seperti soda kaustik dan ethylene dichloride," ujar Pandu, dikutip Selasa, 17 Juni 2025.

Pandu juga menambahkan bahwa Danantara terbuka untuk menjalin kemitraan yang sejalan dengan visi membangun ekosistem industri bernilai tambah di kawasan Asia.

Baca Juga: 3 Fakta Keputusan Presiden Prabowo Soal 4 Pulau Sengketa: Resmi Milik Aceh, Bukan Sumut

Sementara itu, CEO INA, Ridha Wirakusumah, menilai kerja sama ini sebagai sinergi kuat antara investor institusional dan pelaku industri.

"Kami membangun pondasi pertumbuhan industri yang skalabel sekaligus memperkuat daya saing dan ketahanan Indonesia di panggung global," ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini