Ayat-ayat ini menunjukkan posisi Petrus yang ‘menonjol’ di antara para Rasul sejak awal pertemuannya dengan Kristus. Implikasinya adalah pemberian nama dan pemberian kuasa padanya.
Simak Yoh 1:42. Ketika pertama kali bertemu Simon, Yesus memandang dia dan berkata “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas, yang artinya sama dengan Petrus”. Padanan dari kata ‘petrus’ adalah ‘batu karang’.
Kata ‘petrus’ tidak pernah dikenakan pada manusia karena saat itu hanya diperuntukkan bagi Allah. Tetapi, mengapa Yesus mengenakannya pada Simon?
Dalam Mat 16:18, Yesus berjanji akan mendirikan Gereja di atas batu karang ini. Kemudian, Yesus memberikan dua kuasa (Mat 16:19).’Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga’.
Kuasa ini adalah kuasa pengampunan dosa dan kausa membuat tata tertib.
Puncaknya, setelah kebangkitanNya, Yesus memberikan kuasa, yang telah dijanjikan sebelumnya. “Gembalakan domba-domba-Ku” (Yoh 21:17). Dan, Yesus adalah Gembala Yang Baik (Yoh 10:11,14). Lihat juga Mat 16:18.
Dengan ini, cukuplah disimpulkan bahwa Petrus (Simon) sungguh pimpinan para Rasul dan diberi Yesus kuasa untuk menggembalakan umat-Nya.
- Paus tidak dapat salah (infalibilitas)?
Para musyafir, mungkin juga kita, memaknai ‘tidak dapat salah’ seorang Paus itu berarti ‘tanpa cela’, tanpa dosa.
Bayangkan Anda sedang mengerjakan tes Pancasila yang terdiri atas 50 pertanyaan. Anda disebut tak dapat salah, berapa soal yang Anda jawab benar? Lima puluh (50), bukan?
Pemahaman para musyafir yang mencari jalan pulang ke Roma, memahami infalibilitas Paus (Paus tak dapat salah) pada mulanya seperti mereka yang memilih 50 jawaban benar. Tidak ada jawaban yang salah. Infalibitas Paus berarti Paus tidak berdosa.
BACA JUGA: Agama Katolik: Doa Malaikat Tuhan Dikenal Juga Sebagai Doa Angelus
Apa yang akan Anda lakukan jika mengetahui bahwa tidak ada yang benar dari pertanyaan itu? Apakah Anda ‘memaksakan’ diri memberikan jawaban atau membiarkan kertas jawaban kosong? Bernarkah demikian?
Karl Keating mengutip penjelasan dari Konsili Vatikan II (h 102) berikut ini.
‘Biarpun uskup masing-masing tidak mempunyai kuasa istimewa tidak dapat sesat namun jika mereka, dalam ajaran otentik tentang perkara iman dan kesusilaan, sepakat bahwa suatu ajaran tertentu harus diterima secara definitif, mereka pun memaklumkan ajaran Kristus tanpa dapat sesat. Dan, itu lebih jelas lagi jika mereka itu bersidang dalam Komisi Ekumenis, serta bertindak sebagai guru dan hakim iman kesusilaan terhadap Gereja semesta, keputusan-keputusan mmereka harus diterima dengan kepatuhan iman’.
Artikel Terkait
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-1): Ricard Wood, Merasakan Dorongan Lembut untuk Berlutut dan Berdoa
Para Musyafir Pulang ke Roma (bagian-2): David Minirth Terpesona Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-3): Jack Amstrong Menjadi Percaya Setelah Mendalami Sejarah
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-4): Bill Alkire dapat Pencerahan Setelah Berdebat dengan Pria Lusuh
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian 5): Bob Grodi Ketakukan Akhir Zaman, Temukan Pengakuan Dosa Alkitabiah
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-6): Frank Howatt Menemukan Kedamaian, Merasa Nyaman, Damai, dan Teduh
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-7): Betty Dameron Segera Sadar Telah Menjadi Farisi Spritual
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian 8): Scott Hann Katakan Kristus adalah Makanan bagi Jiwa Kita
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-9): Kitab Suci Diilhami dan Satu-satunya Sumber Kebenaran Iman?
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-10): Apakah Anda Sudah Diselamatkan?