Oleh: Leo Sutrisno
PONTIANAKGLOBE.COM - Perjalanan para musyafir yang semakin mendekati Roma, yang sweet home, juga mempertanyaan eksistensi Petrus, Paus, dan infalibitiasnya.
- Petrus tinggal di Roma dan meninggal di sana?
Pada awalnya, para musyafir menganggap kepausan muncul sebagai institusi ‘politik’. Kristus tidak mendirikan kepausan. Institusi kepausan dibentuk untuk memberikan kuasa (yang sebenarnya tidak ada) kepada Katolik Roma.
Mereka mempermasalahkan posisi Petrus sebagai pemimpin kepaausan. Karena, Petrus tidak pernah berada di Roma. Bukti keberadaan Petrus di Roma, memang, sangat lemah. Tidak ada teks dalam Kitab Suci yang menyatakan secara eksplisit.
Ada satu ayat yang menyinggung keberadaan Petrus (1Ptr 5:13). Saat Petrus menutup suratnya yang pertama. “Salam kepada kamu sekalian, dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku.”
Kata ‘kawanmu’ merujuk kepada Petrus sendiri (1 Ptr 1:1). Kata ‘terpilih’ merujuk para pengikut Kristus (1 Ptr 1:2).
Menurut Karl Keating (h 86), merujuk pada pernyataan Eusebius Phampilius (AD 303), kata ‘Babilon’ merupakan kata sandi untuk ‘Roma’.
Kata ‘Babel’ (Babilon) muncul dalam sejumlah ayat dalam Kitab Wahyu (Why 14:8; 16:19; 17:5; 18:2; 18:10; 18:21) yang digambarkan sebagai kota besar yang penuh kegiatan maksiat. Satu-satunya ‘kota besar’ dalam Perjanjian Baru adalah ‘Roma’.
BACA JUGA: Agama Katolik: Doa Malaikat Tuhan atau Doa Angelus versi Bahasa Inggris
Untuk memperkuat kesimpulan ini, Karl Keating juga menyertakan tujuh (7) contoh kutipan yang disusun oleh William A. Jurgens dalam buku The Faith of Early Fathers (1970, digital archive.com). Kutipan itu di bawah indeks ‘Petrus datang ke Roma dan meninggal di sana’, dan ‘Petrus mendirikan Tahtanya di Roma dan menjadikan Uskup Roma sebagai penggantinya dalam jabatan Uskup Agung’ (h 87-90).
Jadi, Petrus benar tinggal dan meninggal di Roma.
- Petrus sebagai kepala para Rasul?
Mereka berpendapat bahwa Petrus tidak pernah ditunjuk Kristus menjadi kepala Gereja dunia. Karena, Gereja tidak punya pemimpin duniawi dan tidak pernah bermaksud mempunyai pemimpin duniawi.
Kenyataannya, banyak ayat Perjanian Baru yang menunjukkan bahwa Petrus adalah kepala para Rasul. Petrus selalu diletakkan pada urutan pertama jika menyebutkan nama-nama para Rasul (Mat 10:1-4; Mrk 3:16-19; Luk 6:14-16, dll).